Ntvnews.id, Jakarta - Industri perfilman Indonesia kembali kedatangan pemain baru yang siap memberikan warna berbeda. Avarta Media resmi memperkenalkan diri sebagai rumah produksi (production house) yang berkomitmen mengangkat cerita-cerita emosional, relevan secara budaya, dan memiliki kedekatan mendalam dengan dinamika kehidupan generasi modern.
Rumah produksi ini hadir bukan sekadar untuk menghibur, melainkan menjadi medium bagi penonton untuk merasa dilihat dan dipahami. Melalui pendekatan storytelling yang personal, rumah produksi ini fokus pada tema-tema krusial seperti identitas, kesehatan mental, ambisi, hingga perubahan nilai antargenerasi.
Kekuatan Avarta terletak pada kolaborasi strategis antara figur-figur ahli di bidangnya. Aktris peraih Piala Citra, Acha Septriasa, membawa pengalaman dua dekade di industri film sebagai motor kreatif. Tak sendirian, Acha mantap menggandeng duo pengusaha muda yang masuk dalam daftar Ardi Setiadharma dan Arya Setiadharma.
Ardi Setiadharma (CFO PT Prasetia Dwidharma & CEO Technogym Indonesia) bersama Arya Setiadharma (CEO PT Prasetia Dwidharma & Chairman PT Arkora Hydro Tbk) memberikan landasan bisnis dan investasi yang kuat. Kombinasi ini memastikan Avarta Media tidak hanya menghasilkan karya berkualitas secara sinematik, tetapi juga membangun ekosistem film yang berkelanjutan.
Berdirinya Avarta Media bermula dari keresahan pribadi Acha Septriasa mengenai karier dan kontribusinya bagi industri. Dalam peluncuran resminya, Acha berbagi kisah emosional di balik terbentuknya rumah produksi ini.
"Memang ketika saya, kalau tidak salah tahun 2025 itu, saya lagi galau-galaunya. Saya bingung apa yang ingin saya teruskan di film. Saya punya banyak cita-cita untuk industri entertainment di Indonesia," ungkap Acha Septriasa ke media, 6 Juni 2026.
Sebagai lulusan Mass Communication Multimedia and Broadcasting, Acha merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berkarya di balik layar.
"Sebenarnya saya ingin sekali jadi sutradara atau produser, itu impian saya. Tapi saya tidak tahu harus memulai dari mana dan tidak kenal siapa yang ingin membangun perusahaan bersama saya," tambahnya.
Pertemuannya dengan Ardi dan Arya di kawasan Ashta, Jakarta, menjadi titik balik untuk berkolaborasi membuat rumah produksi besar.
"Kita ngobrol di satu private room. Dari situ saya mulai merasa ini benar-benar kekeluargaan sekali. Kita seumuran, sesama milenial, dan punya visi yang sama untuk memajukan kualitas film Indonesia. Akhirnya pada Agustus 2025, kami resmi mendirikan perusahaan ini bersama. Sekarang, saya berani mencalonkan ide-ide baru karena sudah punya wadahnya," jelas Acha dengan antusias.
Sebagai bukti keseriusan, Avarta Media mengumumkan dua proyek besar yang tengah dikembangkan:
1. 9 Aku, Love Heals: Sebuah drama co-production dengan Shanaya Films yang mengangkat kisah nyata Wella, perempuan asal Kediri yang mengidap Dissociative Identity Disorder (DID). Film ini mengeksplorasi perjuangan menghadapi sembilan kepribadian berbeda akibat trauma masa kecil.
2. Satine: Adaptasi dari novel karya penulis ternama Ika Natassa. Film ini akan memotret realitas emosional generasi masa kini dalam mencari jati diri di tengah tekanan relasi dan ekspektasi sosial.
Untuk memperkuat langkahnya, Avarta didukung oleh Virtuelines Entertainment, sebuah perusahaan investasi dan pendanaan film. Virtuelines fokus pada pengembangan Intellectual Property (IP) potensial dan pendanaan strategis, memastikan bahwa setiap proyek yang dihasilkan memiliki dampak komersial sekaligus resonansi emosional yang bermakna bagi masyarakat.
Acha Septriasa gandeng pengusaha muda untuk dirikan rumah produksi Avarta Media (NTVNews)