BGN: MGB Ciptakan Ketahanan Gizi Sekaligus Tanamkan Rasa Kebangsaan Sejak Dini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Feb 2026, 19:06
thumbnail-author
Dedi
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan (NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai investasi strategis jangka panjang untuk memperkuat rasa kebangsaan dan ketahanan nasional.

Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan, mengatakan kehadiran negara melalui MBG memberikan dampak psikologis dan sosial yang kuat, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil sebagai penerima manfaat.

“Anak-anak merasakan negaranya hadir. Ibu hamil juga merasakan ada yang membantu. Ini membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air,” ujar Tigor dalam acara Nusantara Economic Outlook 2026.

Menurutnya, MBG menyasar kelompok strategis pembentuk masa depan bangsa, mulai dari balita, anak sekolah, hingga ibu hamil dan menyusui. Dengan asupan gizi yang terjamin, ketahanan fisik dan mental generasi muda dapat dibangun secara berkelanjutan.

Tigor mencontohkan sejumlah negara maju yang telah lama menjalankan program serupa sebagai investasi jangka panjang. Jepang, misalnya, telah memberikan makan bergizi kepada anak-anaknya selama lebih dari 100 tahun.

Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan <b>(NTV)</b> Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan (NTV)

“Hasilnya bisa kita lihat, kualitas SDM Jepang sangat tinggi, IQ masuk top dunia, teknologinya maju, bahkan prestasi olahraganya juga konsisten,” katanya.

Selain Jepang, negara seperti Inggris, Finlandia, dan Brasil juga menjalankan program makan bergizi selama puluhan tahun sebagai komitmen negara terhadap generasi mudanya.

Di Indonesia, BGN memastikan MBG tetap tepat sasaran melalui regulasi yang diatur dalam Perpres Nomor 83 Tahun 2024 yang diperbarui melalui Perpres Nomor 115 Tahun 2025. Penerima manfaat dibatasi secara jelas dan diawasi berbasis data.

Tak hanya itu, pengelolaan SPPG juga diwajibkan merekrut tenaga kerja lokal dalam radius maksimal empat kilometer dari lokasi dapur, guna mencegah konflik sosial dan memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

“Dengan pendekatan ini, masyarakat justru ikut menjaga program karena mereka merasa memiliki,” ucap Tigor.

BGN juga menyiapkan tata kelola jangka panjang melalui peningkatan kualitas SPPG, sertifikasi keamanan pangan, serta perencanaan sumber daya manusia agar program MBG berkelanjutan dan semakin kuat sebagai fondasi masa depan bangsa.

x|close