Harga BBM Nonsubsidi Naik, DPR: Ugal-ugalan, Sangat Memberatkan Rakyat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Apr 2026, 09:10
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam. (YouTube) Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam. (YouTube)

Ntvnews.id, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mengkritik keputusan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Sebab, kenaikan dinilai berlangsung secara drastis.

Menurut Mufti, kebijakan tersebut sangat memberatkan rakyat. "Lagi-lagi Pertamina menaikkan harga BBM tanpa ancang-ancang, dan kenaikannya pun sekarang cukup signifikan. Kebijakan ini pastinya sangat memberatkan rakyat," ujar Mufti, Minggu, 19 April 2026.

Ia memandang, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menjadi sebuah langkah kemunduran setelah sebelumnya pemerintah dinilai berani karena tidak menaikkan harga BBM subsidi di tengah gejolak geopolitik global yang mempengaruhi harga minyak dunia.

"Kemarin masyarakat ditenangkan dengan narasi bahwa harga BBM tidak akan naik. Rakyat diminta percaya, diminta tenang. Baru saja masyarakat menyambut dengan sukacita," jelas dia.

"Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba hari ini harga BBM melonjak sangat tajam, tanpa kesiapan, tanpa empati, tanpa komunikasi," lanjut Mufti.

Mufti menilai, langkah Pertamina sudah menjadi kekhawatiran sejak lama, yaitu pemerintah tak menaikkan harga BBM subsidi, tapi melakukan berbagai langkah substitusi.

Bahkan, Mufti mengaku sudah pernah mengingatkan agar pemerintah tidak memberi harapan palsu kepada masyarakat dengan tidak menaikkan harga BBM.

"Ternyata pemerintah benar PHP (pemberi harapan palsu) kepada rakyat," ucapnya.

Meski yang dinaikkan adalah harga BBM nonsubsidi, kata dia hal itu dampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Termasuk masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah.

Terlebih, kata dia, fakta sulitnya BBM subsidi ditemukan di sejumlah daerah juga terjadi usai pemerintah memberi kebijakan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi. Menurut dia, hal ini sebuah ironi.

"Pemerintah seolah menutup mata terhadap kenyataan di lapangan bahwa tidak semua rakyat bisa mengakses BBM subsidi. Di banyak daerah, rakyat harus antre panjang, bahkan pulang dengan tangan kosong karena stok BBM subsidi habis. Dalam kondisi seperti itu, mereka dipaksa membeli BBM nonsubsidi. Dan hari ini, justru BBM nonsubsidi harganya dinaikkan secara ugal-ugalan," jelasnya.

Mufti menilai, kenaikan harga BBM sekarang tak lagi soal subsidi atau nonsubsidi. Karena, kondisi memaksa masyarakat yang seharusnya berhak memperoleh BBM subsidi terpaksa membeli BBM nonsubsidi yang kini harganya meroket.

"Ini bukan lagi soal subsidi atau nonsubsidi. Ini soal keadilan bagi rakyat. Dan ini soal sensitivitas pemerintah yang menaikkan harga BBM di saat kondisi ekonomi rakyat sedang tak baik-baik saja," jelasnya.

Diketahui, harga BBM nonsubsidi naik per 18 April. Harga BBM Pertamax Turbo dengan RON 98 naik jadi Rp 19.400 per liter, dari sebelumnya Rp 13.100 per liter. Lalu Dexlite dari Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter.

Pertamina DEX kini Rp 23.900 per liter, dari sebelumnya Rp 14.500 per liter. Adapun harga BBM subsidi masih sama.

x|close