Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia memasuki triwulan II tahun 2026 dalam posisi yang kuat.
Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi.
Sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tetap kuat sebesar USD148,2 miliar. Kemudian, sektor perbankan nasional tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ucap Airlangga dalam acara Media Briefing: Update on Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Baca juga: Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gelojak Global, Jauh Beda dari Tahun 1998
Dari sisi sektor eksternal, kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar turut memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.
Dari sisi fiskal, APBN terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai sekitar Rp11,92 triliun. Selain itu, defisit APBN tetap terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB (per Maret 2026).
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Menko Airlangga.
Berbagai indikator sosial ekonomi juga menunjukkan tren perbaikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,25 persen, diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen, serta rasio gini yang menurun menjadi 0,363.
Sejalan dengan itu, peningkatan kualitas pertumbuhan juga didukung oleh realisasi investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi tercatat berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.
Selain itu, Menko Airlangga menyampaikan salah satu program yang didorong oleh Presiden Prabowo Subianto yaitu hilirisasi. Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun (USD36,5 miliar), tumbuh 43,3 persen (yoy) dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi 2025. Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral dan batu bara, diikuti perkebunan dan kehutanan, serta minyak dan gas, perikanan, dan kelautan.
Pemerintah juga terus memperkuat kemudahan berusaha dengan pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) dan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 guna mendorong penyederhanaan perizinan melalui penerapan SLA, penguatan kebijakan berbasis risiko, serta digitalisasi melalui OSS-RBA, sekaligus membuka peluang investasi lebih luas.
Baca juga: AS Investigasi Ekspor Indonesia, Airlangga Siapkan Pembelaan
Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus menunjukkan kinerja positif sebagai motor investasi dan pertumbuhan sektor bernilai tambah. KEK telah berkembang di sektor strategis seperti manufaktur maju, hilirisasi mineral, ekonomi digital, serta pariwisata dan kesehatan.
Dari sisi hubungan kerja sama internasional, selama masa pemerintahan Presiden Prabowo, berbagai capaian strategis telah diraih melalui kemajuan sejumlah kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional, termasuk dengan Uni Eropa, Kanada, kawasan Eurasia, serta penguatan peran Indonesia di berbagai forum global seperti BRICS, G20, OECD, RCEP, ASEAN, dan CPTPP.
Lebih lanjut, dalam sesi diskusi, Menko Airlangga menegaskan bahwa kebijakan subsidi energi yang dilakukan Pemerintah tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal yang memadai sehingga kebijakan harga energi dapat dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan global.
Sedangkan di sektor investasi, komitmen penanaman modal asing (FDI) terus menunjukkan tren positif, mencakup proyek-proyek strategis, termasuk sektor energi, semikonduktor, dan pusat data.
“Indonesia memiliki lahan, Indonesia memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," ungkap Airlangga.
"Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” pungkasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. (Bakom)