Pengamat: Pengaturan Pembelian Wajar BBM hingga Full Tank Efektif Tekan Konsumsi Energi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 16:33
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Petugas berdiri di samping mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom. Petugas berdiri di samping mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov mengatakan bahwa kebijakan pengisian bahan bakar minyak (BBM) wajar hingga tangki penuh (full tank) merupakan langkah efektif dalam mencegah lonjakan konsumsi BBM.

Oleh karenanya, jika dilakukan secara konsisten, maka program ini diharapkan dapat mengurangi beban subsidi BBM, yang pada akhirnya juga dapat menurunkan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kebijakan ini bisa menahan laju konsumsi domestik agar tidak melonjak liar, sehingga tekanan terhadap APBN, khususnya BBM subsidi, tidak semakin dalam," jelas Abra, Rabu 1 Maret 2026.

Baca Juga: Pemerintah Optimalkan APBN, Belanja K/L Rp130 Triliun Dialihkan Lebih Produktif

Dalam konferensi pers Selasa 31 Maret 2026, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan akan melakukan pengaturan pembelian BBM dengan penggunaan barcode MyPertamina dengan batas wajar 50 liter alias tangki penuh per kendaraaan.

Namun, kendaraan umum dikecualikan dari program tersebut.

Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan penggunaan BBM secara bijak dan wajar serta menjadi bagian penting dari program transformasi budaya kerja serta hemat energi nasional.

Abra menilai kebijakan tersebut dapat memberikan mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa BBM merupakan sumber daya yang terbatas.

Baca Juga: Cara Hemat BBM Kendaraan: Hindari Pemanasan Mesin Terlalu Lama

"Kebijakan pembatasan pembelian BBM ini perlu dibaca bukan sekadar langkah teknis, tapi sebagai sinyal antisipatif pemerintah untuk menyiapkan psikologis masyarakat menghadapi risiko pasokan energi yang bisa semakin ketat ke depan," imbuh dia.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa kebijakan tersebut tetap dibarengi reformasi yang lebih fundamental, terutama dalam memastikan subsidi yang lebih tepat sasaran.

"Hal ini agar subsidi tidak dinikmati kelompok yang sebenarnya mampu," pungkas dia.

x|close