Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya modus penipuan digital melalui website tiruan yang menyerupai situs resmi perusahaan.
Praktik ini merupakan bagian dari phishing yang bertujuan mengelabui nasabah agar memasukkan data pribadi ke dalam situs palsu.
Perseroan mengimbau agar nasabah selalu memastikan keaslian alamat situs (URL) sebelum menggunakan layanan digital, guna menghindari risiko kejahatan siber tersebut.
Baca Juga: Bank Indonesia Siaga Jaga Rupiah Selama Lebaran di Tengah Konflik Timur Tengah
“BRI mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada tautan yang mencurigakan. Pastikan selalu mengakses layanan melalui kanal resmi BRI dan tidak pernah membagikan data pribadi kepada pihak manapun,” ujar Direktur IT BRI, Saladin D. Effendi, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa salah satu metode yang paling sering digunakan pelaku adalah menyebarkan tautan palsu melalui pesan singkat, email, hingga aplikasi percakapan.
Tautan tersebut biasanya dibuat menyerupai tampilan resmi dan digunakan untuk mencuri informasi sensitif seperti user ID, PIN, password, hingga kode OTP melalui teknik social engineering.
BRI juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah meminta data penting nasabah, seperti PIN, password, maupun kode OTP, melalui tautan ataupun pihak yang tidak resmi.
Baca Juga: Bank Mandiri Raih Penghargaan Dealer Utama SBSN Terbaik 2025
Selain itu, apabila nasabah menemukan indikasi social engineering atau aktivitas mencurigakan yang mengatasnamakan BRI, mereka disarankan segera menghubungi Contact Center BRI di 1500017 untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sebagai langkah sederhana namun penting, masyarakat diimbau untuk menerapkan prinsip “Think Before Click”, yakni memastikan keamanan tautan sebelum mengaksesnya serta melakukan verifikasi melalui kanal resmi.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, BRI berharap masyarakat semakin waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan digital, sehingga tercipta ekosistem keuangan digital yang aman, nyaman, dan terpercaya.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Nasabah mendapatkan pesan WhatsApp berisi modus penipuan dari oknum tidak bertanggung jawab. (ANTARA/HO-BRI) (Antara)