Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memastikan kesepakatan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp253,3 triliun), bakal dijalankan sepenuhnya secara transparan serta sesuai regulasi yang berlaku di kedua negara.
Menurut Simon, seluruh proses impor energi dilakukan secara terbuka melalui mekanisme tender dan bidding, bukan penunjukan langsung.
“Semua proses dilakukan transparan untuk menjamin aturan dijalankan dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers virtual dari Washington DC, Jumat, 20 Februari 2026.
Diketahui, pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, yang salah satunya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253,3 triliun, Kamis, 19 Februari 2026.
Baca Juga: Pertamina: Porsi LPG Impor dari AS Bisa Naik sampai 70 Persen
Nilai itu mencakup pembelian LPG sebesar 3,5 miliar dolar AS (Rp59,1 triliun), minyak mentah sebesar 4,5 miliar dolar AS (Rp76,0 triliun), serta bensin hasil kilang sebesar 7 miliar dolar AS (Rp118,2 triliun).
Simon mengatakan, kesepakatan energi dengan AS tidak hanya bertujuan menjamin ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pasokan.
Indonesia, menurut dia perlu memperluas sumber impor baik untuk crude oil maupun produk olahan agar memperoleh harga yang paling kompetitif. Selain dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, Pertamina melihat peluang besar dari Amerika Serikat sebagai mitra strategis.
Simon menilai kesepakatan ini merupakan win-win solution bagi kedua negara, dengan tetap menghormati regulasi masing-masing.
Usai kesepakatan ditandatangani, Simon mengatakan Pertamina menunggu finalisasi dalam 90 hari ke depan. Ia menekankan bahwa seluruh tahapan akan dilakukan sesuai prosedur dan prinsip kepatuhan, dengan dukungan pemerintah berupa keputusan, perizinan, dan dukungan teknis lainnya.
“Kami berharap semua proses sebagai bagian dari kesepakatan dagang ini dapat berlangsung dengan baik, memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia dan mitra kita di Amerika Serikat,” tandas Simon.
Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (Istimewa)