Umumkan Alokasi US$15 Miliar untuk Impor Migas AS, Bahlil Tegaskan Tak Tambah Volume Impor

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Feb 2026, 07:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (Istimewa)

Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia akan mengalokasikan dana sebesar 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253,4 triliun (kurs Rp16.770) untuk mengimpor minyak dan gas (migas) dari Amerika Serikat. Namun, ia menekankan kebijakan tersebut tidak berarti Indonesia meningkatkan volume impor minyak secara keseluruhan.

Bahlil menjelaskan pemerintah hanya akan melakukan penyesuaian sumber impor dari negara-negara pemasok sebelumnya.

"15 miliar dolar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat, bukan berarti kita akan menambah volume impor."

"Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara di antaranya dari negara di Asia Tenggara, Middle East, maupun beberapa negara di Afrika," katanya dalam konferensi pers di Washington DC, AS, Jumat, 20 Februari 2026 waktu setempa6, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Ia menegaskan bahwa kebijakan impor migas dari AS tetap mempertimbangkan mekanisme ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Baca Juga: Pemerintah Tekankan Kebijakan Bioetanol Sebagai Upaya Akselerasi Kedaulatan Energi Nasional

Bahlil juga mengungkapkan selama ini Indonesia telah mengimpor LPG dari Amerika Serikat sekitar 7 juta ton per tahun. Dengan adanya kesepakatan baru antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump, volume impor LPG dari AS diproyeksikan meningkat.

Menurut Bahlil, realisasi kesepakatan ini diperkirakan akan mulai dijalankan dalam waktu tiga bulan ke depan.

"Dalam catatan kami, begitu kami mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo, begitu 90 hari ke depan sudah selesai, maka langsung dimulai tahapan eksekusi."

"Jadi ini bisa langsung berjalan agar tidak terjadi persepsi berbeda dengan teman-teman di sana," ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. <b>(Istimewa)</b> Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (Istimewa)

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyatakan impor minyak mentah dan LPG dari AS menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional. Ia menyebut sebelum adanya kesepakatan antara Prabowo dan Trump, Pertamina telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah perusahaan minyak Amerika Serikat, seperti Exxon, Chevron, dan Halliburton.

Simon mengatakan kesepakatan tersebut mencakup berbagai aspek strategis untuk meningkatkan lifting minyak mentah dalam negeri.

"Jadi kerjasama ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi tapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan tentunya best global practices dalam industri minyak dan gas yang bisa mendorong kita untuk meningkatkan produksi," ujarnya.

x|close