Purbaya: Jangan Takut soal Kondisi Ekonomi Global, Domestik Kita Bagus

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jan 2026, 20:30
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa di Indonesia Fiscal Forum (IFF) 2026, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa di Indonesia Fiscal Forum (IFF) 2026, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026. (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat bahwa dampak situasi ekonomi global saat ini sebetulnya tidak seburuk yang dikhawatirkan banyak orang. Menurutnya, perekonomian nasional Indonesia bisa tetap tumbuh positif selama konsumsi domestik dijaga dengan baik.

Meski banyak yang menilai kondisi ekonomi global sekarang penuh ketidakpastian, kata Purbaya, kenyataannya ekspor Indonesia tetap tumbuh sepanjang 2025. Neraca perdagangan Indonesia pun surplus USD 38,54 miliar pada Januari-November 2025.

Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 5 persen dan inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen sesuai target.

"Ketidakpastian di ekonomi selalu ada, padahal (kondisi) globalnya enggak jelek-jelek amat. Kalau Anda lihat surplus neraca perdagangan, kenapa enggak ada yang bilang global ekonominya bagus sekali sehingga surplus kita tumbuh? Jangan menakut-nakuti orang terus, nanti takut beneran. Domestik kita cukup bagus. Inflasi kita rendah, 2,92 persen (secara tahunan). Pertumbuhan ekonomi kita (triwulan IV 2025) kemungkinan 5,45 persen," kata Purbaya dalam Indonesia Fiscal Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus angka 6 persen pada tahun ini. Tantangannya adalah menjaga tingkat inflasi.

Baca Juga: Gubernur BI: Prospek Ekonomi Global Masih Redup Sampai 2027 Akibat Proteksionisme AS

Meski demikian, Purbaya menilai inflasi di Indonesia sebetulnya masih amat rendah. Inflasi inti hanya sekitar 2,3 persen. Bila harga emas tidak dihitung, inflasi menjadi hanya sekitar 1,5 persen. Artinya, konsumsi domestik masih bisa didorong lebih agresif, tak perlu takut inflasi melonjak.

"Sebetulnya permintaan masih relatif rendah.
Belum ada demand pull inflation. Artinya, saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral. Jadi, saya punya ruang untuk mendorong ekonomi lebih cepat lagi," ucapnya.

Purbaya pun membeberkan bahwa Bank Indonesia (BI) sudah mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa digenjot hingga 6,2 persen. Bila potensi pertumbuhan itu dapat diwujudkan, Indonesia bisa keluar dari 'kutukan 5 persen'. Terakhir kali ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 6 persen adalah pada 2012.

"Bisa 6,2 persen potensial growth rate-nya. Dia (BI) ngomong seperti itu. Saya ingin mendorong terus ekonomi tahun ini ke arah 6 persen dengan berbagai cara. Kalau itu terjadi, maka kita sudah mengalami breakout dari 'kutukan 5 persen' dan bisa tumbuh lebih cepat lagi," tegasnya.

Baca Juga: WEF Davos 2026, Rosan Ungkap Optimisme Investor terhadap Ekonomi Indonesia

x|close