Ntvnews.id, Jakarta - Infrastruktur internet BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital turut memberikan dukungan terhadap kegiatan pendidikan di wilayah terpencil, termasuk Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran konektivitas dinilai membantu sekolah menjalankan pembelajaran dan administrasi berbasis digital.
Kepala SMAN 1 Titehena, Konrardus Kudarto, menceritakan kondisi sekolahnya sebelum mendapatkan dukungan konektivitas BAKTI. Pada 2016, wilayah tempat sekolah berada masih termasuk kawasan blank spot.
"2016 ketika saya jadi kepala sekolah itu, sekolah tepat di desa tempat sekolah berdiri itu titik blank spot itu, tidak ada sinyal. Ada sinyal hanya tempat-tempat tertentu yang munculnya bisa 4G, bisa di atas pohon. Tapi hampir semua tempat itu E (Edge)," ujarnya dalam Acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi sekolah, pihaknya kala itu mengandalkan perangkat modem dan paket data. Situasi mulai berubah ketika sekolah memperoleh bantuan perangkat Wi-Fi dari BAKTI Kominfo melalui iForte pada 2017.
"Di 2017 itu sekolah dapat bantuan peralatan Wi-Fi dari Bakti Kominfo, iForte. Yang itu sudah sangat membantu kami di lapangan yang sebenarnya sinyalnya susah," katanya.
Menurut Konrardus, kebutuhan internet di sekolah semakin besar seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam dunia pendidikan. Tidak hanya untuk kegiatan pembelajaran, konektivitas dibutuhkan untuk administrasi, pelaporan, hingga pelaksanaan asesmen.
"Meski dalam perjalanan kami, kami hanya pakai untuk kegiatan pendidikan. Kan ada banyak sekali, pembelajaran juga harus berbasis digital, administrasi pelaporan juga digital, terus paling banyak dibutuhkan di asesmen," imbuhnya.
Baca Juga: Istana Benarkan SBY Absen Upacara HUT ke-81 RI
Berbagai bentuk asesmen pendidikan saat ini membutuhkan koneksi internet. Konrardus menyebut Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), Tes Kompetensi Akademik (TKA), hingga Tes Kompetensi Guru sebagai kegiatan yang mengandalkan sistem digital.
"Bahkan ada baru lagi Tes Kompetensi Guru, semua berbasis internet," ungkapnya.
Dukungan konektivitas tersebut kembali mengalami tantangan setelah wilayah Flores Timur terdampak erupsi gunung berapi. Sekolah kemudian digunakan sebagai posko pengungsi sehingga akses internet yang tersedia diprioritaskan untuk kebutuhan para pengungsi.
"Tapi setelah itu langsung erupsi itu gunung berapi dan sekolah jadi posko pengungsi. Dan itu menjadikan seluruh penggunaan internet itu dikhususkan untuk pengungsi. Nah kami sekolah tidak bisa akses lagi," jelasnya.
Setelah pengungsi dipindahkan ke hunian sementara dan hunian tetap, pihak sekolah berupaya kembali menggunakan jaringan untuk kegiatan pendidikan. Namun, persoalan kapasitas jaringan masih menjadi kendala.
Konrardus mengatakan indikator sinyal menunjukkan kondisi penuh, tetapi koneksi belum mampu menunjang kebutuhan sekolah secara optimal.
"Jadi dalam pikiran saya bahwa kalau hanya membuka halaman web sederhana pun tidak bisa log in. Dan untuk asesmen yang berbasis komputer yang sistemnya online maupun semi online itu butuh kapasitas yang lebih besar," sambungnya.
Ia berharap kapasitas jaringan dapat diperkuat sehingga infrastruktur BAKTI bisa dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk kebutuhan asesmen siswa.
"Jadi titipan pesan untuk Bakti barangkali itu diperkuat supaya kita bisa gunakan maksimal, optimalisasi peralatan untuk kebutuhan asesmen. Terutama asesmen di sekolah," katanya.
Persoalan kapasitas tersebut menjadi bagian dari dinamika pemanfaatan infrastruktur digital di wilayah 3T. Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, mengatakan pihaknya terus menerima masukan dari pemerintah daerah dan penerima layanan untuk meningkatkan kualitas konektivitas.
"Kami sudah terbiasa dimarahi dalam arti harfiah, tapi itu kami anggap sebagai suatu hal yang harus kita terima karena kerinduan masyarakat akan hadirnya sinyal," jelasnya.
Menurut Fadhilah, kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas justru akan semakin berkembang setelah jaringan tersedia. Ketika berbagai aplikasi mulai digunakan, kebutuhan terhadap kapasitas internet pun meningkat.
"Bapak, Ibu jangan mengira ketika ini semua sudah di-deploy, kemudian masyarakat menjadi puas. Biasanya puasnya Pak Robby cuma dua minggu, setelah itu minta tambah bandwidth," ujarnya.
Karena itu, BAKTI mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, operator seluler, dan mitra lainnya agar infrastruktur yang telah dibangun dapat terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Fadhilah menegaskan pembangunan konektivitas di wilayah 3T pada akhirnya harus menghasilkan kemandirian masyarakat. Pemerintah tidak ingin terus berada di suatu wilayah jika ekosistem digital di sana sudah mampu berjalan secara mandiri.
"Karena keberhasilan pemerintah untuk Universal Service Obligation bukan seberapa lama kami berada di sana, tapi seberapa cepat kami meninggalkan lokasi itu. Artinya masyarakat sudah bisa mandiri," pungkasnya.
Melalui BAKTI Media Connect 2026, pengalaman SMAN 1 Titehena menjadi gambaran bahwa pemerataan akses digital bukan hanya tentang menghadirkan jaringan internet. Kualitas dan kapasitas koneksi juga harus terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, terutama ketika layanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan semakin bergantung pada teknologi digital.
Direktur Strategis Bisnis Indonesia Group Maria Yuliana Benyamin (dari kiri), Kepala Dinas Kominfo Kab. Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen, Kepala Sekolan SMAN 1 Titehena Konrardus Kudarto, dan Kepala UPTD Puskesmas Ilebura Yohanes Noda Kwuta m (Istimewa)