Ntvnews.id, Manila - Mantan terpidana mati Mary Jane Veloso akan memperoleh dukungan reintegrasi secara penuh dari pemerintah Filipina setelah Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. memberikan pengampunan mutlak kepadanya.
Departemen Pekerja Migran Filipina (DMW) memastikan Mary Jane dan keluarganya akan mendapatkan pendampingan dalam proses kembali beradaptasi dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Menteri DMW Hans Leo Cacdac telah menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi secara langsung dengan keluarga Veloso di Nueva Ecija setelah Mary Jane dibebaskan pada Sabtu dini hari.
"Instruksi kami jelas: DMW harus bahu-membahu mendampingi Mary Jane, anak-anaknya, dan orang tuanya saat mereka menata kembali kehidupan mereka," ujar Cacdac dalam sebuah siaran pers, dikutip laman resmi pemerintah Filipina, Senin, 28 September 2026.
Cacdac menjelaskan, tim DMW yang dikirim ke Nueva Ecija akan berkoordinasi dengan keluarga Mary Jane serta para pemangku kepentingan di daerah tersebut. Koordinasi itu dilakukan untuk merancang program reintegrasi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga Veloso.
"Tim kami yang menuju Nueva Ecija akan bekerja sama secara langsung dengan pihak keluarga dan pemangku kepentingan setempat untuk menyusun program reintegrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka," lanjutnya.
Baca Juga: Potret Mary Jane Terpidana Mati Penyelundupan Narkoba Sebelum Dipulangkan ke Filipina
Menurut DMW, program tersebut akan menjadi landasan untuk memberikan berbagai intervensi di tingkat keluarga dan masyarakat. Pemerintah berupaya agar kepulangan Mary Jane dapat menjadi langkah menuju kehidupan yang produktif dan mandiri dalam jangka panjang.
"DMW menyambut baik keputusan Presiden tersebut, seraya mencatat bahwa pemberian grasi eksekutif ini menandai akhir yang pasti dan penuh kemenangan atas perjuangan berat selama puluhan tahun untuk mendapatkan kembali kebebasan dan kemerdekaannya," demikian bunyi pernyataan tersebut.
DMW bersama Overseas Workers Welfare Administration (OWWA) kini mempersiapkan sejumlah dukungan bagi Mary Jane. Bantuan tersebut mencakup konseling psikososial, paket awal untuk menunjang mata pencaharian, bantuan modal usaha, hingga pelatihan keterampilan.
Program tersebut juga akan menghubungkan kegiatan usaha yang nantinya dijalankan Mary Jane dengan koperasi lokal serta berbagai peluang ekonomi di Nueva Ecija. Dengan demikian, kepulangannya diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya untuk kembali berpartisipasi secara aktif di tengah masyarakat.
"Reintegrasi bukan sekadar soal pulang ke rumah-ini tentang memulihkan martabat, memastikan kemandirian finansial, dan memampukan Mary Jane untuk berkontribusi bagi komunitas serta perekonomian setempat," kata Cacdac.
Mary Jane bersama keluarganya menggelar konferensi pers di Siena College, Quezon City, pada Sabtu. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Marcos atas pemberian pengampunan tersebut.
Mary Jane juga mengungkapkan sejumlah rencana setelah kembali bebas, termasuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, beristirahat, dan beribadah di gereja yang berada di kampung halamannya.
"Kami ingin fokus mempererat kebersamaan keluarga terlebih dahulu, lalu makan bersama seluruh anggota keluarga di Nueva Ecija," ujarnya.
Mary Jane juga menyampaikan pesan kepada orang-orang yang sebelumnya merekrutnya. Ia berharap mereka memberikan kesaksian yang sebenarnya untuk memulihkan nama baiknya setelah mendapatkan pengampunan.
"Tolong katakan saja yang sebenarnya bahwa saya benar-benar tidak bersalah. Satu keinginan saya lainnya adalah berkumpul kembali dengan keluarga, dan itu sudah terwujud," ujarnya.
"Hanya itu saja yang saya inginkan-mendengar langsung dari mulut mereka bahwa saya tidak bersalah," tambahnya.
Mary Jane ditangkap pada 2010 di Yogyakarta setelah aparat menemukan 2,6 kilogram heroin di dalam kopernya. Pada tahun yang sama, ia dijatuhi hukuman mati.
Sejak awal, Mary Jane secara konsisten membantah terlibat dalam tindak pidana tersebut. Ia mengaku menjadi korban perdagangan manusia dan menyatakan telah ditipu oleh para perekrutnya untuk membawa koper yang berisi narkotika tanpa mengetahui isinya.
Pada 2015, pelaksanaan hukuman mati terhadap Mary Jane ditunda pada menit-menit terakhir. Pemerintah Filipina saat itu meminta Indonesia menunda eksekusi agar Mary Jane dapat memberikan kesaksian terhadap pihak yang diduga terlibat dalam perdagangan manusia yang menjeratnya.
Setelah melalui proses diplomatik antara Filipina dan Indonesia mengenai mekanisme pemindahan tahanan, Mary Jane dipulangkan ke Manila pada Desember 2024. Ia kemudian ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita di Kota Mandaluyong untuk menjalani sisa masa hukumannya di bawah yurisdiksi Filipina.
Mary Jane (ANTARA/Yeyen)