Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.
“Untuk Pertalite, dijamin harga sampai bulan Desember aman. Jadi ini sudah masuk dalam buffer,” ucapnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Kepastian tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang sebelumnya meminta agar harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan meski harga minyak mentah dunia masih berada pada level yang tinggi.
Di sisi lain, pemerintah membuka peluang melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi apabila harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di pasar internasional mengalami penurunan.
Sebagai tindak lanjut, PT Pertamina (Persero) telah menurunkan harga sejumlah BBM non-subsidi secara bertahap. Mulai Jumat, 1 Agustus 2026, harga Pertamax turun dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter. Kemudian, Pertamax Green 95 turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter.
Baca juga: Pertamina Stop Pasokan Pertalite ke SPBU di Timika yang Melanggar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)
Sementara itu, harga Pertalite tetap dipertahankan sebesar Rp10 ribu per liter. Adapun Biosolar juga tidak mengalami perubahan dan tetap berada di angka Rp6.800 per liter.
Pemerintah turut menyoroti manfaat penerapan biodiesel B50 yang dinilai mampu memberikan tiga keuntungan utama, yakni mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meningkatkan ketahanan Indonesia menghadapi gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, serta menekan beban subsidi energi.
“Arahan bapak Presiden juga di tengah ketidakpastian daripada perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya, dimana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebagai shock absorber itu menjaga agar dengan diterapkannya B50. Maka, kita tidak lagi impor solar dan sebetulnya dengan harga sekarang juga relatif pemanfaatan subsidi relatif kecil untuk B50,” ungkap dia.
(Sumber: Antara)
Arsip - Kondisi antrean di salah satu SPBU di Kota Sampit. (Antara)