Wamendagri Bima Arya Sebut Inflasi Adalah Kunci Menuju 8 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Jul 2026, 13:25
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan pengendalian inflasi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, inflasi yang terkendali akan memberikan dampak positif terhadap konsumsi masyarakat, peningkatan produksi, penciptaan lapangan kerja, hingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan Bima saat membuka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Bali-Nusa Tenggara Tahun 2026 di Subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Senin, 27 Juli 2026. Keterangan itu disampaikan kembali dalam rilis resmi Kemendagri di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.

"Kalau kita berhasil mengelola inflasi maka spillover efeknya banyak. Mendorong konsumsi, menstimulasi produksi, membuka lapangan pekerjaan, dan sesuai dengan target Bapak Presiden 8 persen of economic growth," kata Bima.

Ia juga mengajak pemerintah daerah memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan di masing-masing wilayah.

Baca JugaWamendagri: Emas Masih Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Nasional

Bima menjelaskan Kemendagri terus mengawal upaya pengendalian inflasi melalui Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang rutin dilaksanakan sejak Oktober 2022. Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda dalam mengendalikan inflasi. Di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi geografis kepulauan membuat konektivitas antarpulau dan tingginya biaya logistik menjadi faktor utama yang memengaruhi distribusi pangan.

Selain itu, aktivitas sektor pariwisata, meningkatnya permintaan saat hari besar keagamaan, serta faktor cuaca juga ikut memengaruhi dinamika inflasi di kawasan tersebut.

"Potensinya besar, tapi persoalannya adalah konektivitas antarpulau tadi. Biaya logistik ini sangat memengaruhi di sini. Distribusi pentingnya sama, krusialnya sama dengan produksi. Kalau di sini produksi dan distribusi sama-sama challenging atau menantang," ujarnya.

Wamendagri Bima Arya dan Direkur NT FAM Tommy Tampubolon <b>(Dok. NTV)</b> Wamendagri Bima Arya dan Direkur NT FAM Tommy Tampubolon (Dok. NTV)

Baca JugaWamendagri Bima Imbau Warga Antisipasi Kemacetan saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di SICC Hari Ini

Untuk memperkuat ketahanan pangan, Bima mengusulkan tiga langkah utama kepada pemerintah daerah. Pertama, memperkuat kerja sama antardaerah agar distribusi dan pasokan pangan tetap lancar. Kedua, memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi guna memantau perkembangan harga dan kondisi pasar secara real time. Ketiga, mengoordinasikan kebijakan perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) ke dalam rencana tata ruang wilayah sebagai upaya menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang.

"Jadi apa yang kami sampaikan ini menggambarkan betapa pengendalian inflasi menyangkut semua aspek dari hulu ke hilir. Melibatkan semua, enggak hanya kepala daerah saja. Butuh bantuan Bank Indonesia, butuh juga intervensi dari Bulog, butuh juga penguatan tata kelola dari Kementerian Perdagangan. Dan tentu leadership kepala daerah dalam hal ini menentukan," ujarnya.

(Sumber: Antara)
 
x|close