Indonesia Akan Olah Surplus Solar Menjadi Avtur demi Hentikan Impor

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jul 2026, 10:44
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui setelah peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta- Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui setelah peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta- Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah berencana memanfaatkan surplus produksi solar dalam negeri untuk diolah menjadi avtur. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar pesawat.

Menurut Bahlil, Indonesia diperkirakan akan memiliki surplus solar dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi avtur.

“Surplus solarnya itu diperkirakan, ini dalam hitung-hitungan, diperkirakan di antara 3–4 juta kiloliter. Ini tahap berikutnya adalah kami akan mendorong untuk membangun avtur,” ujar Bahlil ketika ditemui usai peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

Ia menjelaskan, bahan baku pembuatan avtur memiliki karakteristik yang hampir sama dengan solar. Karena itu, Kementerian ESDM bersama Pertamina kini tengah menyusun peta jalan pembangunan industri avtur nasional.

Baca Juga: Harapan Pengguna Jalan di Balik Peluncuran B50: Lebih Hijau, Lebih Murah, Lebih Mandiri

Bahlil menargetkan pembangunan pabrik avtur pertama di Indonesia dapat dimulai pada penghujung 2026 agar kebutuhan avtur nasional tidak lagi bergantung pada impor.

“Insya Allah, doakan 2026 akhir ini sudah bisa kami lakukan, untuk memulai pembangunan pabrik avtur kita,” ujar Bahlil.

Rencana tersebut muncul seiring potensi surplus solar yang dipicu penerapan mandatori biodiesel B50 serta optimalisasi produksi Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur.

“Itu (Kilang Balikpapan) menghasilkan 5,6 juta kiloliter. Itu penambahan maka akan terjadi surplus,” kata Bahlil.

Selain menghentikan impor avtur, pemerintah juga menargetkan Indonesia mampu memproduksi bensin dengan angka oktan RON 92, RON 95, hingga RON 98 di dalam negeri sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Baca Juga: Bahlil Umumkan Indonesia Tak Lagi Impor Solar Berkat Penerapan B50

“Jadi tidak ada lagi pikiran-pikiran, spekulasi yang muncul, seolah-olah ada sesuatu dalam permainan impor. Kami ingin semuanya ada di dalam negeri,” kata Bahlil.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis. Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga mengumumkan bahwa Indonesia kini telah menghentikan impor solar.

Ia menegaskan peluncuran B50 bukan sekadar pengenalan bahan bakar baru, melainkan menjadi langkah strategis menuju kemandirian dan kedaulatan energi nasional.

Keberhasilan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu prioritas utama. Implementasi B50 pada Juli 2026 juga merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden kepada Bahlil untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia.

(Sumber: Antara)

x|close