Danantara Mulai Bangun Pengolahan Sampah di Bali, Target 1.500 Ton Sampah per Hari

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jul 2026, 16:01
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Menko Pangan tinjau groundbreaking pembangunan teknologi PSEL Bali gagasan Danantara Indonesia di Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026. Menko Pangan tinjau groundbreaking pembangunan teknologi PSEL Bali gagasan Danantara Indonesia di Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.idDenpasar - Danantara Indonesia memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali dengan memastikan teknologi yang diterapkan telah melalui pengujian dan terbukti digunakan di berbagai negara.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pembangunan PSEL Bali menjadi langkah awal penting dalam program Danantara Waste-to-Energy. Peresmian dimulainya pembangunan atau groundbreaking pertama program tersebut dilakukan di Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026.

“Pagi hari ini adalah hari yang menurut kami sangat bersejarah, inilah pertama kali di dalam program Danantara Waste-to-Energy atau PSEL ini dilakukan groundbreaking pertama di Bali,” ucap CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani di Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026.

Rosan menyampaikan bahwa kebutuhan terhadap teknologi pengolahan sampah menjadi energi muncul sebagai upaya menjawab tantangan besar yang diberikan Presiden Prabowo Subianto terkait penyelesaian persoalan sampah secara cepat.

Baca JugaDanantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk Proyek PSEL di 47 Kabupaten/Kota

Kementerian ESDM gencar melakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste to energy (WtE/PLTSa), teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), biogas, serta pemanfaatan biomassa/ist Kementerian ESDM gencar melakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste to energy (WtE/PLTSa), teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), biogas, serta pemanfaatan biomassa/ist

Pemerintah, kata dia, tidak hanya ingin mengurangi jumlah sampah, tetapi juga memastikan proses pengolahannya tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Karena itu, pengubahan sampah menjadi energi menjadi salah satu solusi yang dipilih.

Melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), Danantara Indonesia bergerak mencari mitra yang memiliki teknologi pengolahan sampah yang telah terbukti. Teknologi tersebut disebut telah diterapkan di 50 negara.

“Mau sampah baru, mau sampah lama, bisa diserap, bisa diambil karena kebetulan waktu saya mengunjungi beberapa tempat, baik di China, Jepang, dengan program ini sangat bersih, malah di China di tengah pemukiman elit PSEL-nya, karena bersih tidak ada bau sama sekali bahkan di belakangnya dibuat taman baca dan rekreasi untuk anak-anak,” ujar Rosan.

Rosan berharap masyarakat dapat melihat perubahan dalam pengelolaan sampah setelah fasilitas PSEL Bali selesai dibangun.

Baca JugaTiga Proyek PSEL Danantara Resmi Jadi PSN, Ini Lokasinya

“Saya yakin ini akan bersih, tidak bau, dan juga justru akan menjadi salah satu tempat untuk bisa dipelajari, dikunjungi, dan bisa menjadi tempat berguna lainnya untuk taman baca atau berekreasi,” sambungnya.

Sementara itu, CEO PT DIM Pandu Patria Sjahrir mengatakan pembangunan PSEL Bali dilakukan melalui proses yang profesional dengan melibatkan berbagai aspek, mulai dari teknis operasional, hukum, finansial, hingga lingkungan dalam menentukan mitra kerja.

Pembangunan fasilitas tersebut berlangsung di Desa Pedungan, Denpasar, yang berada dalam kawasan aglomerasi Denpasar dan Badung. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028 dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.

Pandu menjelaskan PSEL Bali dirancang untuk memberikan manfaat dalam pengelolaan sampah, penyediaan energi hijau, serta mendukung perekonomian lokal dengan mengikuti standar lingkungan Europe Industrial Emission Directive atau EU IED.

Proyek tersebut ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah setiap tahun atau lebih dari 40 persen dari total timbulan sampah di Bali.

Dari aspek lingkungan, PSEL Bali diproyeksikan dapat mengurangi emisi sampah dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen. Selain itu, proyek ini juga diperkirakan mampu menekan emisi karbon sekitar 640.000 ton CO2 setiap tahun.

“Dari sisi energi, inisiatif ini akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan sekitar 100.000 rumah masyarakat Bali, dan inisiatif ini bernilai Rp3 triliun, diperkirakan menciptakan 1.200 tenaga kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80 persen,” tuturnya.

(Sumber: Antara)

x|close