Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Jumat 15 Mei 2026.
Berdasarkan data pasar Investing.com, rupiah pada pukul 09.11 WIB tercatat berada di level Rp17.609 per dolar AS atau melemah 111,5 poin setara 0,64 persen.
Namun pada pukul 11.19 WIB, rupiah sedikit membaik ke posisi Rp17.576 per dolar AS.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS yang cukup tajam serta kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan mata uang Rupiah.
“Hari ini dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim, Jumat 15 Mei 2026.
Baca juga: Rupiah Anjlok, DPR Minta Purbaya hingga BI Jaga Kepercayaan Pasar
Lebih lanjut, ia menyoroti memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan Selat Hormuz.
Kondisi tersebut menurutnya memicu kekhawatiran negara-negara di Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi.
Selain itu, muncul pula informasi mengenai dugaan komunikasi dan kerja sama antara Israel dengan sejumlah negara Timur Tengah, meski telah dibantah pihak terkait.
Ketegangan semakin meningkat setelah kapal kargo India yang berlayar dari Afrika menuju Uni Emirat Arab dilaporkan tenggelam di lepas pantai Oman pada Rabu lalu.
Peristiwa itu disebut menambah ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Di tengah tekanan tersebut, Ibrahim menilai Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Bank Indonesia terus melakukan intervensi ya kita lihat bahwa tadi pagi ya di Rp17.600-an lebih ya kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp17.600," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ibrahim menilai tingginya anggaran subsidi energi turut menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah.
Menurutnya, kebutuhan impor minyak mentah Indonesia masih sangat besar dan mayoritas digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS, BI: Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak bentah ini salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah. Apalagi dari minyak mentah, dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor 85 persen adalah untuk subsidi bahan bakar minyak untuk masyarakat,"bebernya.
Ibrahim bahkan memproyeksikan rupiah masih berpotensi melemah lebih dalam dalam waktu dekat, ia memperkirakan level Rp18.000 per dolar AS.
"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus," tandasnya.
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)