Industri Cold Chain Indonesia Kian Berkembang Pesat, Mitsubishi Fuso Siap Dukung Logistik Modern

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Apr 2026, 19:40
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Fuso Talk Show bertema "Peluang dan Tantangan Industri Cold Chain di Indonesia" di booth Mitsubishi Fuso pada ajang GIICOMVEC (Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026). (Foto: Adiantoro/NTV) Fuso Talk Show bertema "Peluang dan Tantangan Industri Cold Chain di Indonesia" di booth Mitsubishi Fuso pada ajang GIICOMVEC (Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026). (Foto: Adiantoro/NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Industri rantai pendingin (cold chain) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan seiring perubahan pola konsumsi masyarakat dan pesatnya perkembangan sektor logistik modern.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan (Kemenhub), M. Risal Wasal, mengungkapkan potensi industri cold chain di Indonesia sangat besar, didukung oleh luasnya wilayah serta meningkatnya kebutuhan distribusi produk berkualitas.

"Dulu kita ragu mengirim makanan jarak jauh. Sekarang, dengan tren seperti frozen food dan cloud kitchen, kebutuhan rantai pendingin menjadi semakin krusial," ujar Risal dalam Fuso Talk Show bertema "Peluang dan Tantangan Industri Cold Chain di Indonesia" di booth Mitsubishi Fuso pada ajang GIICOMVEC (Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, potensi cold chain tidak hanya terbatas pada makanan olahan, namun juga mencakup sektor perikanan, pertanian, industri, hingga pariwisata. 

Dengan banyaknya kawasan ekonomi khusus (KEK), daerah 3T, serta sentra kelautan, sistem distribusi berpendingin menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kualitas produk.

Pemerintah juga terus memperkuat dukungan melalui regulasi, standardisasi kendaraan, serta pengembangan sistem transportasi multimoda berbasis satu dokumen guna meningkatkan efisiensi logistik nasional.

"Dengan sistem multimoda, efisiensi biaya logistik bisa mencapai 35 persen," jelas Risal.

Tantangan Infrastruktur Masih Jadi Kendala

Meski prospeknya cerah, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait infrastruktur. 

Ketersediaan listrik untuk kontainer berpendingin di kapal, sinkronisasi antar moda transportasi, hingga kapasitas angkut menjadi isu utama.

Selain itu, aspek keselamatan dan daya dukung jalan juga menjadi perhatian penting dalam operasional kendaraan cold chain.

Risal menambahkan, pemerintah tengah mendorong pemerataan pembangunan untuk menciptakan titik-titik ekonomi baru di berbagai wilayah. 

Saat ini, terdapat puluhan kawasan strategis seperti 46 Transit Oriented Development (TOD), 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 204 Kawasan Industri (KI), dan 59 Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN), dan titik ekonomi lainnya yang membutuhkan dukungan sistem logistik berpendingin.

Dia menuturkan pengembangan berbagai titik ekonomi baru di sejumlah wilayah memerlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan di sektor logistik nasional, termasuk bidang transportasi dan pengangkutan. 

"Kami mendukung sepenuhnya seluruh layanan. Namun, persyaratan kelayakan jalan untuk kendaraan berpendingin tetap harus diperhatikan," ucap Risal.

Pelaku Usaha Butuh Dukungan Nyata

Chief Innovation Officer PT Trimitra Trans Persada Tbk (B-Log), Gerry Ardian, menilai potensi industri cold chain di Indonesia sangat besar, namun tetap membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah.

"Infrastruktur masih menjadi tantangan utama, terutama dalam distribusi dari daerah produksi seperti sentra ikan dan sayur ke pasar yang lebih luas," ujar Gerry.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas produk selama pengiriman. Salah satu kendala yang sering terjadi adalah minimnya fasilitas pendukung, seperti colokan listrik di kapal untuk kontainer berpendingin.

"Kalau mesin dimatikan, barang bisa rusak. Tapi kalau terus dinyalakan, konsumsi BBM jadi sangat tinggi. Ini tantangan yang belum merata di semua daerah," jelasnya.

Sebagai perusahaan logistik berbasis third party logistics (3PL), B-Log terus melakukan ekspansi melalui penguatan jaringan gudang, armada transportasi, serta sistem digital guna menjaga kualitas distribusi.

Sementara untuk urusan kebijakan, Gerry menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. "Kebijakan tersebut sudah disiapkan oleh Pak Dirjen," tambahnya.

Mitsubishi Fuso Siap Perkuat Ekosistem Cold Chain

Dari sisi produsen kendaraan, Mitsubishi Fuso menegaskan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan industri cold chain di Indonesia.

Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya, menyatakan pihaknya siap menyediakan berbagai kendaraan niaga yang sesuai kebutuhan distribusi berpendingin, mulai dari truk ringan hingga berat.

"Kami memahami bahwa sektor logistik terus berkembang. Karena itu, kami menghadirkan beragam pilihan kendaraan yang dapat disesuaikan dengan kondisi operasional di lapangan,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi produk, Mitsubishi Fuso juga memperkuat layanan purna jual dengan lebih dari 225 titik layanan di seluruh Indonesia, serta mengusung konsep "zero downtime" untuk menjaga operasional pelanggan tetap optimal.

Selain itu, Fuso tengah mengembangkan layanan one stop service khusus kendaraan cold chain, termasuk perawatan sistem pendingin di bengkel resmi.

Perusahaan juga menghadirkan fitur digital untuk memantau kondisi kendaraan dan suhu muatan secara real-time.

"Monitoring suhu sangat penting karena sedikit perubahan bisa berdampak besar pada kualitas produk. Ke depan, kami akan terus mendukung kebutuhan industri ini," tutup Aji.

x|close