Rencana Impor Kendaraan Niaga dari India, Gaikindo Sebut Bisa Ganggu Ekosistem Industri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Feb 2026, 09:45
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika (kedua dari kanan) menegaskan industri otomotif sangat bergantung pada struktur dan kebutuhan pasar domestik. (Foto: Adiantoro/NTV) Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika (kedua dari kanan) menegaskan industri otomotif sangat bergantung pada struktur dan kebutuhan pasar domestik. (Foto: Adiantoro/NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Rencana impor 105.000 kendaraan niaga dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menuai sorotan dari pelaku industri otomotif nasional. 

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kebijakan tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan pasar serta keberlanjutan ekosistem manufaktur dalam negeri.

Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menegaskan industri otomotif sangat bergantung pada struktur dan kebutuhan pasar domestik.

"Pasar kendaraan niaga di Indonesia saat ini didominasi model 4x2. Karena itu, pabrikan memproduksi kendaraan niaga 4x2 sesuai kebutuhan pasar yang ada," ujar Putu Juli disela-sela konferensi pers pameran Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo 2026 (GIICOMVEC 2026) di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, kendaraan niaga konfigurasi 4x2 masih menjadi tulang punggung pasar dalam negeri. Sementara itu, segmen 4x4 memiliki volume yang jauh lebih terbatas dan umumnya digunakan untuk kebutuhan khusus seperti sektor perkebunan dan pertambangan.

Dia menilai, kebutuhan tersebut belum tentu sejalan dengan karakteristik operasional KDMP. Meski industri otomotif nasional pernah memproduksi kendaraan niaga 4x4, minat pasar yang rendah membuat produksinya tidak berkelanjutan.

"Model 4x4 pernah dibuat, tetapi karena pasarnya tidak mencukupi, produksinya terbatas. Biasanya hanya untuk kebutuhan perkebunan dan tambang. Karena volumenya kecil, pabrikan di dalam negeri umumnya hanya melakukan karoseri dan penyesuaian tertentu. Sementara yang paling banyak tetap 4x2," jelasnya.

Lebih lanjut, Putu juli menekankan, perkembangan kendaraan niaga 4x2 di Indonesia tidak hanya terlihat dari sisi produksi, tetapi juga dari penguatan ekosistem industri secara menyeluruh.

Di sektor hulu, rantai pasok mulai dari bahan baku, komponen, hingga distribusi logistik telah berkembang cukup kuat. Bahkan untuk kategori light truck, tingkat kandungan lokal (TKDN) disebut telah melampaui 42 persen.

"Artinya, ekosistem industri kendaraan niaga kita sebenarnya sudah cukup solid dan mampu menopang kebutuhan domestik," ujarnya.

Sementara di sektor hilir, jaringan layanan purna jual kendaraan niaga dinilai telah tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. 

Ketersediaan bengkel, suku cadang, serta sumber daya manusia yang memadai menjadi faktor penting dalam menjamin kelancaran operasional pelaku usaha.

"Layanan purna jual kendaraan niaga sudah sangat berkembang dan tersebar di seluruh Indonesia. Jika ada permasalahan, baik bengkel, SDM, maupun komponen, bisa cepat terpenuhi. Kendaraan tidak lama menganggur sehingga operasional usaha tetap berjalan lancar," tukas Putu.

Sorotan Gaikindo ini menambah dinamika dalam polemik impor kendaraan niaga dari India. Pelaku industri berharap kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan keberlangsungan industri otomotif nasional, penyerapan tenaga kerja, serta kekuatan rantai pasok dalam negeri.

x|close