Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin memberikan penjelasan mengenai alasan penempatan gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang rangkaian KRL. Penjelasan ini muncul di tengah usulan perubahan posisi gerbong wanita ke bagian tengah yang disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri.
Bobby menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak dibuat secara sembarangan, melainkan melalui berbagai pertimbangan operasional dan keamanan. Ia kembali menegaskan bahwa prinsip utama KAI adalah memastikan keselamatan seluruh penumpang tanpa membedakan gender.
"Kami tidak membedakan gender laki-laki dan perempuan. Bagi kami PT Kereta Api Indonesia keselamatan adalah nomor satu. Tidak ada toleransi, tidak ada kompromi, baik pelanggan perempuan maupun laki-laki," ujar Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (29/4).
Baca Juga: Bea Cukai Gagalkan Ekspor Ilegal 190 Kg Emas, Potensi Rugi Rp 41 Miliar
Lebih jauh, Bobby menguraikan bahwa penempatan gerbong wanita di ujung rangkaian memiliki fungsi strategis. Salah satunya adalah untuk meminimalkan potensi pelecehan di dalam kereta, sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang perempuan.
Selain itu, posisi di bagian depan dan belakang dinilai memudahkan akses naik dan turun, terutama pada kondisi padat penumpang. Penempatan ini juga berkaitan dengan aspek pengawasan, karena lokasi gerbong tersebut lebih dekat dengan petugas yang berjaga.
"Selama ini kami melakukan pemisahan karena beberapa aspek. Pertama, supaya tidak terjadi harassment. Kedua, memberikan kemudahan akses untuk perempuan. Ketiga, memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan penjaga yang ada di situ, maka dari ujung ke ujung," jelasnya.
Dengan pertimbangan tersebut, KAI menilai pengaturan yang ada saat ini telah dirancang untuk menjawab kebutuhan perlindungan sekaligus kenyamanan penumpang perempuan. Meski demikian, perusahaan tetap mencermati berbagai masukan yang berkembang, termasuk usulan penataan ulang posisi gerbong wanita.
Sebelumnya, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong wanita ditempatkan di tengah rangkaian. Usulan ini disampaikan setelah insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang menimbulkan korban, termasuk penumpang perempuan.
"Tadi, kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah.
"Jadi yang laki-laki di ujung, depan-belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah. Tadi sementara itu," sambungnya.
KAI, melalui Bobby, menegaskan bahwa setiap kebijakan akan selalu berpijak pada aspek keselamatan, keamanan, serta kenyamanan penumpang secara menyeluruh.
Rangkaian KRL Commuter Line melintas di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Rabu (7/5/2025). Pemerintah Kota Serang bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Opersional (Daop) 1 Jakarta berencana membangun jalur kereta KRL Commuter Line hing (Antara)