Menlu Pastikan Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz Tak Ganggu Stok BBM Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Apr 2026, 16:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteli Luar Negeri (Menlu) Sugiono Menteli Luar Negeri (Menlu) Sugiono (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyatakan bahwa tertahannya kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro di Selat Hormuz tidak berdampak pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Ia menjelaskan, kedua kapal tersebut mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah (crude).

“Kaitannya dengan tadi kapal Pertamina, itu dua kapal Pertamina yang ada di sana, yang di Selat Hormuz itu, informasi yang disampaikan ke saya bahwa isinya itu kurang lebih 2 juta barel crude yang kalau misalnya di-convert ya. Saya tidak tahu perbandingannya, tapi kalau misalnya 1 banding 1, ya kurang lebih 2 juta barel, 2 juta barel fuel juga kan gitu kan,” ujar Sugiono di kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Ia menilai jumlah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi energi nasional, sehingga tidak memengaruhi pasokan BBM secara keseluruhan.

"Kebutuhan itu kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita merupakan satu kebutuhan yang relatif kecil. Jadi perbandingannya kurang lebih seperti itu. Jadi supaya kita tidak hilang gambaran. Jangan nanti kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata gak kelihatan,” kata dia.

Baca Juga: 11,5 Juta Wajib Pajak Sudah Laporkan SPT hingga 14 April 2026

Sugiono juga menegaskan bahwa pasokan energi Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada jalur Selat Hormuz. Hal ini membuat kondisi energi nasional tetap terjaga.

“Yang perlu kita sama-sama ingat bahwa saat ini, satu, posisi energi kita relatif aman sesuai apa yang disampaikan oleh Kementerian ESDM. Kemudian suplai yang kita dapat juga tidak semuanya itu lewat Hormuz,” kata dia.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara pemasok minyak, termasuk Rusia dan Amerika Serikat, sebagai alternatif sumber energi.

“Nah, negara-negara lain yang dituju tentu saja kemarin Rusia, dan saya kira juga merupakan satu alternatif yang strategis ya. Kemudian beberapa negara juga di Pertamina saya kira juga memiliki beberapa ladang ya di tempat-tempat lain. Kemudian juga sumber-sumber dari Amerika waktu terakhir juga ada beberapa pembicaraan, saya ikuti, dalam kaitannya dengan pemenuhan suplai energi dan bahan bakar ini,” ujar dia.

Menteli Luar Negeri (Menlu) Sugiono <b>(NTVnews)</b> Menteli Luar Negeri (Menlu) Sugiono (NTVnews)

Terkait proses pelayaran, Sugiono menyebut Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran bersama Pertamina masih melakukan negosiasi dengan pemerintah Iran agar kedua kapal dapat melintas.

“Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa,” ujar dia.

Baca Juga: Zulhas Ungkap Penyebab Harga Minyakita Naik, Pasokan Terserap Bantuan Pangan

Ia juga menambahkan bahwa situasi di Selat Hormuz masih dipengaruhi kebijakan blokade dari Iran, di mana setiap kapal yang melintas harus memenuhi sejumlah persyaratan tertentu.

“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” ucap dia.

x|close