Lebanon dan Israel Gelar Negosiasi Langsung Perdana sejak 1993 di Washington

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Apr 2026, 06:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Foto yang diambil pada 12 Maret 2026 menunjukkan bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di daerah Bachoura, Beirut, Lebanon. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich Foto yang diambil pada 12 Maret 2026 menunjukkan bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di daerah Bachoura, Beirut, Lebanon. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Lebanon dan Israel sepakat mengadakan negosiasi langsung di Washington menyusul pembicaraan sebelumnya yang dinilai berjalan produktif.

Pertemuan ini mencatat sejarah sebagai dialog tingkat tinggi pertama antara kedua pihak sejak 1993. Proses tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat dan melibatkan para duta besar masing-masing negara di AS.

"Pemerintah Israel dan Lebanon tengah melakukan pembicaraan diplomatik terbuka, langsung, dan tingkat tinggi, yang pertama sejak 1993, dengan perantara Amerika Serikat," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

"Pembicaraan ini akan mencakup kelanjutan dialog mengenai bagaimana menjamin keamanan jangka panjang perbatasan utara Israel serta mendukung tekad pemerintah Lebanon untuk memulihkan kedaulatan penuh atas wilayahnya," tambah pejabat itu, dikutip AFP.

Isu utama yang dibahas dalam perundingan ini meliputi pengamanan senjata, pelucutan kelompok Hizbullah, serta peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas.

Namun demikian, perbedaan pandangan kedua pihak masih cukup tajam. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menegaskan bahwa negaranya menginginkan pelucutan total senjata Hizbullah dan mendorong terciptanya perjanjian damai jangka panjang.

Baca Juga: Tanker Raksasa Iran Diklaim Lolos Blokade AS, Berlayar Lewati Selat Hormuz

Israel juga mengusulkan pembagian wilayah Lebanon selatan menjadi tiga zona keamanan. Zona pertama, yang berada hingga sekitar 8 kilometer dari perbatasan, akan berada di bawah kehadiran militer Israel secara intensif hingga Hizbullah dibubarkan.

Zona kedua, yang mencakup wilayah hingga Sungai Litani, direncanakan menjadi area operasi Israel yang secara bertahap akan diserahkan kepada militer Lebanon.

Sementara itu, wilayah di utara Sungai Litani sepenuhnya akan berada di bawah kendali tentara Lebanon, termasuk dalam proses pelucutan senjata Hizbullah.

Pejabat Israel juga mengusulkan pembentukan kembali “zona penyangga” di Lebanon selatan.

Di sisi lain, Hizbullah menuntut agar Israel terlebih dahulu menarik pasukannya dari wilayah selatan Lebanon sebagai bagian dari implementasi kesepakatan gencatan senjata 2024 antara kedua pihak.

Kesepakatan tersebut mengharuskan Israel mundur dari Lebanon selatan, sementara Hizbullah menghentikan keberadaannya di wilayah tersebut. Namun, dalam praktiknya, Israel disebut belum sepenuhnya menarik diri dan masih melancarkan serangan hampir setiap hari.

Hizbullah sendiri baru merespons setelah peristiwa pembunuhan Ali Khamenei pada 1 Maret 2026.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi mulai dibuka, situasi di lapangan masih diwarnai ketegangan yang tinggi.

x|close