Trump Mengaku Terkejut Iran Balas Serangan hingga Sasar Aset AS dan Negara Teluk

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Apr 2026, 07:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku tidak menyangka Iran akan melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS setelah digempur oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Dalam wawancara, Trump menyebut serangan gabungan AS-Israel dilakukan karena kekhawatiran bahwa Iran akan melancarkan serangan ke kawasan Timur Tengah.

"Mereka akan punya senjata nuklir dalam satu bulan, mungkin dua pekan, dan mereka akan memakai untuk menyerang Israel dan Timur Tengah," kata Trump dikutip dari AFP, Kamis, 16 April 2026.

Trump kemudian menyatakan bahwa Iran berpotensi menyerang Amerika Serikat serta sejumlah negara Arab seperti Qatar, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Ia menambahkan bahwa negara-negara di kawasan Teluk terkejut karena menjadi sasaran serangan balasan Iran.

"Anda tahu, negara-negara ini tak menyangka diserang karena mereka (Iran) memang menargetkan negara tersebut," imbuh Trump.

Baca Juga: Kopdes Merah Putih Milik Bersama, 97% Keuntungan Dibagikan untuk Masyarakat Desa

Ia juga menegaskan pandangannya bahwa Iran berupaya memperluas pengaruh di kawasan.

"Mereka akan melakukan dan mengambil alih Timur Tengah. Kami menghentikan mereka."

Serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran terjadi pada 28 Februari, yang disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ribuan warga sipil lainnya.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan aset militer serta logistik AS di negara-negara Teluk. Iran juga meyakini bahwa pangkalan militer AS di kawasan tersebut digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap negaranya.

Setelah lebih dari sebulan konflik berlangsung, AS dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan. Negosiasi lanjutan terkait implementasi kesepakatan tersebut digelar di Islamabad pada pekan lalu.

Ilustrasi - Kapal tanker melintas di selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/aa. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Kapal tanker melintas di selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/aa. (Antara)

Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Amerika Serikat menuntut Iran untuk sepenuhnya menghentikan program nuklir serta menyerahkan uranium yang telah diperkaya.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa Washington harus menghormati hak Teheran dalam memperkaya uranium dan mengakui kedaulatan negara tersebut atas Selat Hormuz.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diplomasi terus dilakukan, ketegangan antara kedua negara masih belum mereda.

x|close