Trump Murka ke Media AS Usai Sebut Iran Menang Perang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Apr 2026, 05:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (depan) menghadiri konferensi pers setelah KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 25 Juni 2025. ANTARA/HO- Xinhua/Zhao Dingzhe/pri. Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (depan) menghadiri konferensi pers setelah KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 25 Juni 2025. ANTARA/HO- Xinhua/Zhao Dingzhe/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluapkan kemarahannya terhadap media asal AS, The New York Times, setelah menerbitkan laporan yang menyebut Iran berada di posisi unggul dalam konflik tersebut.

Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menegaskan bahwa Iran telah mengalami kehancuran total dan menilai laporan tersebut sebagai informasi yang tidak benar.

"Bagi mereka yang masih membaca The Failing New York Times dan, meskipun Iran sudah benar-benar DIHANCURKAN, secara militer maupun yang lain, Anda akan mengira Iran sebenarnya menang atau, setidaknya, bekerja cukup baik - Tetapi itu tidak benar, dan The New York Times tahu bahwa itu BERITA PALSU!" tulis Trump.

Sejak menjabat sebagai presiden, baik pada periode sebelumnya maupun saat ini, Trump dikenal kerap melontarkan kritik keras terhadap media yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakannya, bahkan tak jarang menempuh jalur hukum.

Baca Juga: Kopdes Merah Putih Milik Bersama, 97% Keuntungan Dibagikan untuk Masyarakat Desa

Dalam unggahan tersebut, ia juga menuntut agar The New York Times menyampaikan permintaan maaf atas pemberitaan mereka.

"Kapan media korup ini meminta maaf atas kebohongan dan tindakan mengerikan mereka terhadap saya, para pendukung saya, dan Negara kita sendiri! Apakah mereka tidak punya rasa malu?" ujarnya.

Sebelumnya, media tersebut merilis sejumlah laporan yang menilai Iran mampu bertahan dari serangan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, sehingga dianggap sebagai bentuk kemenangan tersendiri.

Dalam artikel berjudul Iran's Battered Leaders Emerge From War Confident - and With New Cards yang terbit pada 9 April, disebutkan bahwa bagi pemerintahan seperti Iran, keberhasilan bertahan dari operasi militer AS dan Israel dapat dimaknai sebagai kemenangan.

"Sekadar selamat dari serangan AS-Israel sudah berarti kemenangan. Namun, benih krisis mereka berikutnya mungkin sudah ditanam," tulis New York Times.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/Kyle Mazza/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/Kyle Mazza/pri. (Antara)

Selain itu, dalam program The Ezra Klein Show, jurnalis Ezra Klein bersama Direktur Kebijakan Luar Negeri Brookings Institution, Suzanne Maloney, juga membahas kemungkinan Amerika Serikat menghadapi kesulitan dalam konflik tersebut.

"Anda pernah membayangkan sebulan dari sekarang perang bisa mereda karena Amerika tak tahan dengan kekacauan yang ditimbulkan terhadap energi, pupuk, helium global, pasokan, dan lain-lain. Pemerintahan Iran bersikeras dengan tindakannya mengendalikan Selat Hormuz yang kemungkinan mengubah ongkos kapal," kata Klein.

"Dan itu seperti, bagi saya, perang yang akan kita kalahkan, apakah salah?" tanya dia.

Suzanne sependapat dengan Klein. Dia bilang, "Saya kira itu benar."

"Saya tak melihat kemenangan dalam terminologi yang sesungguhnya di akhir krisis ini," imbu Suzanne.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Daniel Byman dari Center for Strategic and International Studies. Ia menilai strategi Iran yang berfokus pada bertahan dan menimbulkan kerugian berhasil memberikan dampak signifikan bagi Amerika Serikat.

"Dan strategi ini mencapai keberhasilan yang berarti," kata dia.

"Dengan mendestabilisasi pasar energi global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Teheran telah memastikan bahwa bahkan kampanye yang sukses secara taktis pun membawa kerugian strategis yang signifikan bagi Washington," imbuh Byman.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas sejak serangan besar-besaran AS bersama Israel pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ribuan warga sipil.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan aset militer AS di negara-negara Teluk, serta sempat menutup jalur perdagangan global di Selat Hormuz.

Setelah lebih dari sebulan konflik berlangsung, kedua pihak sempat membuka jalur perundingan damai, namun negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Trump kemudian mengumumkan kebijakan pemblokiran Selat Hormuz bagi kapal yang terafiliasi dengan Iran.

x|close