BMKG: 66 Persen Wilayah Jabar Dikepung Kemarau Lebih Awal dan Kering

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 15:44
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi: Petambak memanen garam di areal tambak desa Luwunggesik, Kecamatan Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (30/7/2025). Memasuki musim kemarau, petambak setempat mulai menggarap lahan garam meski kondisi cuaca masih tidak menentu yang berdampak pada masa produksi garam jadi lebih pendek dibanding tahun lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc. Ilustrasi: Petambak memanen garam di areal tambak desa Luwunggesik, Kecamatan Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (30/7/2025). Memasuki musim kemarau, petambak setempat mulai menggarap lahan garam meski kondisi cuaca masih tidak menentu yang berdampak pada masa produksi garam jadi lebih pendek dibanding tahun lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc. (Antara)

Ntvnews.id, 

Bandung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat memprediksi sekitar 66 persen wilayah di provinsi tersebut akan mengalami musim kemarau lebih awal dengan kondisi yang jauh lebih kering dibandingkan biasanya.

BMKG memberikan peringatan serius kepada masyarakat karena selain datang lebih cepat, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih lama dari kondisi normal.

"Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei," ujar Prakirawan BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, dalam keterangan daring di Bandung, Selasa.

Vivi menjelaskan bahwa tanda-tanda kemarau sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Maret di wilayah Bekasi dan Karawang bagian utara.

Kondisi tersebut kemudian meluas ke Subang dan Indramayu pada April.

Baca Juga: BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang, Tapi Bukan yang Terparah

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat mengalami kondisi kering ekstrem.

Secara keseluruhan, sekitar 93 persen wilayah diprediksi masuk kategori kering selama musim kemarau tahun ini.

Selain itu, sebagian kecil wilayah diperkirakan mencapai puncak kemarau pada waktu yang berbeda, yakni sekitar 8 persen wilayah pada Juli dan 2 persen pada September.

Sementara itu, hanya sekitar 2 persen wilayah yang memiliki pola musim berbeda, meliputi Kota Bogor, wilayah Bogor tengah, serta sebagian kecil wilayah utara Sukabumi.

Menanggapi kondisi tersebut, BMKG Jawa Barat mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi krisis air bersih.

"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," kata Vivi.

Masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air, sementara pemerintah diminta mengoptimalkan pengelolaan waduk, bendungan, serta memperbaiki embung sebagai cadangan air.

Baca Juga: Menhut Dorong Rewetting Gambut Cegah Karhutla Saat Kemarau

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dengan menghindari puncak kemarau, serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan dan memiliki masa panen lebih singkat.

"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal," ucap Vivi Indhira.

(Sumber: Antara)

x|close