Wihaji: Keluarga Jadi Kunci Cetak SDM Berkualitas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 08:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji dalam agenda Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA (Muhammad Baqir Idrus Alatas) Tangkapan layar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji dalam agenda Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA (Muhammad Baqir Idrus Alatas) (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai “inkubator” utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

“Unit terkecil dalam sebuah negara namanya keluarga, jika ingin mengintegrasikan pembangunan negara ke depan, maka dimulai dari keluarga,” ucapnya dalam agenda Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Berdasarkan data United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2054 dengan angka sekitar 322 juta jiwa, sebelum kemudian mengalami penurunan.

Sementara itu, periode 2020–2030 disebut sebagai masa krusial sekaligus peluang besar karena merupakan puncak bonus demografi.

Baca Juga: Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN dan TP PKK Demi Wujudkan Keluarga Berkualitas

Dalam lima tahun ke depan, Indonesia dinilai berada pada fase penentuan untuk memastikan keberhasilan memanfaatkan bonus demografi pada 2030. Oleh karena itu, fokus pembangunan diarahkan pada tiga pilar utama investasi manusia, yaitu sektor ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Kemendukbangga mencatat terdapat sekitar 74,09 juta keluarga di Indonesia. Rinciannya meliputi 3,72 juta keluarga dengan anak usia di bawah dua tahun (baduta), 10,18 juta keluarga dengan balita, serta 46,73 juta keluarga dengan remaja berusia 10–24 tahun yang belum menikah.

Selain itu, terdapat 46,3 juta keluarga dengan pasangan usia subur (PUS) serta 25,17 juta keluarga yang memiliki anggota lanjut usia.

Lebih lanjut, Wihaji memastikan pemerintah akan mengoptimalkan berbagai strategi agar setiap tahapan kehidupan masyarakat, mulai dari pranikah hingga usia lanjut, dapat berjalan dengan baik.

Upaya tersebut didukung oleh sekitar 599 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bekerja langsung di lapangan.

Baca Juga: BKKBN Libatkan Penyuluh KB Perkuat Peran Keluarga Lindungi Anak di Ruang Digital

Para pendamping ini berperan dalam memberikan edukasi, mengubah perilaku masyarakat, hingga melakukan intervensi nyata seperti pencegahan stunting dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

“Inilah para pekerja lini lapangan yang hari ini menggerakkan dan mengubah perilaku, termasuk juga berkenaan dengan investasi sumber daya manusia,” ungkap Wihaji.

(Sumber: Antara)

x|close