Ntvnews.id
Menurut Kardinal Suharyo, komitmen terhadap perdamaian telah disampaikan Paus sejak awal masa kepemimpinannya, saat pertama kali tampil di mimbar Basilika Santo Petrus dengan doa agar damai Tuhan menyertai seluruh dunia.
“Itu artinya, beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinan pelayanan sebagai Paus akan mengusahakan perdamaian,” ujar Kardinal Suharyo setelah memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026.
Baca Juga:Kardinal Suharyo: Paskah Cerminkan Perjalanan Bangsa dari Gelap ke Terang
Dalam konteks konflik global yang tengah berlangsung, ia menyampaikan bahwa Paus juga memberikan pernyataan tegas terkait perang, bahkan dengan nada yang sangat keras terhadap para pemimpin yang memutuskan konflik bersenjata.
“Bahkan, dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau mengatakan doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan. Kata-kata keras sekali,” kata Kardinal.
Ia menilai bahwa perang merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional serta nilai-nilai yang dijunjung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dampaknya pun dinilai sangat luas, tidak hanya merusak lingkungan global, tetapi juga membawa penderitaan besar bagi umat manusia.
“Yang ada adalah akibat yang sangat buruk, bukan hanya bagi dunia, bagi bumi, tetapi bagi umat manusia,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Paus mengajak seluruh umat Katolik di dunia untuk terus mendoakan perdamaian setiap hari, meskipun harapan agar konflik berakhir sebelum Paskah belum terwujud.
Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo menggambarkan kondisi dunia saat ini sebagai situasi yang penuh “kegelapan”, namun tetap menyisakan harapan yang diibaratkan sebagai cahaya kecil yang terus menerangi kehidupan manusia.
Baca Juga: Ucapkan Selamat Paskah, Menag Ajak Umat Doakan Kedamaian Bangsa
Selain isu perdamaian, ia juga menyoroti pentingnya kesadaran akan konsep “ekologi integral”, yakni pendekatan menyeluruh terhadap lingkungan hidup yang tidak hanya mencakup aspek teknis seperti energi, air, dan pengelolaan sampah, tetapi juga menyangkut moralitas manusia.
Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak lepas dari sikap serakah yang mengabaikan nilai solidaritas terhadap sesama.
“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa upaya pertobatan ekologis harus dimulai dari perubahan hati nurani, bukan hanya tindakan luar. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk menerapkan gaya hidup sederhana sebagai bentuk pengendalian diri, yakni hidup secukupnya tanpa berlebihan.
(Sumber: Antara)
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin konferensi pers perayaan Paskah di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (5/4/2026). ANTARA/Asep Firmansyah (Istimewa)