Kardinal Suharyo: Paskah Cerminkan Perjalanan Bangsa dari Gelap ke Terang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Apr 2026, 14:14
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (5/4/2026). ANTARA/HO-Kosmos Katedral Jakarta Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (5/4/2026). ANTARA/HO-Kosmos Katedral Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Suharyo menyampaikan bahwa makna Paskah bagi umat Kristiani mencerminkan perjalanan spiritual dari kegelapan menuju terang, yang juga dapat dianalogikan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

“Paskah itu selalu berarti eksodus, keluar dari perbudakan menuju tanah terjanji. Atau secara simbolik, keluar dari kegelapan menuju terang,” kata Kardinal Suharyo usai memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa kisah perjalanan umat dalam Kitab Suci memiliki kesamaan dengan perjalanan bangsa Indonesia yang bergerak dari masa penjajahan menuju kemerdekaan.

Menurutnya, sejumlah peristiwa penting menjadi penanda proses tersebut, seperti Kebangkitan Nasional 1908 yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan, kemudian Sumpah Pemuda 1928 yang memperkuat persatuan.

Baca Juga: Ucapkan Selamat Paskah, Menag Ajak Umat Doakan Kedamaian Bangsa

Puncaknya adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 yang menjadi hasil dari perjuangan panjang bangsa, sekaligus diikuti dengan penetapan Pancasila sebagai fondasi negara.

Namun, Kardinal Suharyo menilai perjalanan setelah kemerdekaan tidak sepenuhnya berjalan lancar.

Ia menyoroti Reformasi 1998 sebagai titik penting dalam membangun demokrasi dan upaya pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

“Sejak 1998 hingga sekarang, usaha memberantas KKN sering dipertanyakan. Bahkan, muncul dampak lanjutan seperti kekerasan, kerusakan lingkungan, dan kebohongan publik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama kalangan sipil yang dinilai paling merasakan dampaknya.

Salah satu indikasinya adalah penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada melemahnya aktivitas ekonomi kecil.

Baca Juga: GEKIRA Salurkan Sembako untuk Ratusan Koster Gereja, Tegaskan Persatuan Nasional di Momentum Paskah

Meski demikian, Kardinal menegaskan bahwa semangat Paskah tidak mengajak umat untuk larut dalam kesedihan, melainkan tetap berjuang dengan iman, harapan, dan kasih dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap berbagai gerakan masyarakat yang muncul sebagai wujud kepedulian terhadap bangsa serta upaya menjaga kehidupan bersama yang lebih baik.

“Kita berharap, dengan keyakinan iman dan semangat sebagai bangsa, pada waktunya nanti kita dapat kembali lebih dekat kepada cita-cita kemerdekaan,” kata dia.

(Sumber: Antara)

x|close