Ntvnews.id, Jakarta - Suasana duka menyelimuti kediaman Farizal Romadhon di Ledok, Kelurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Selasa (31/3). Prajurit berpangkat Prajurit Kepala (Praka) itu gugur saat menjalankan tugas sebagai bagian dari pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon.
Namun, kepergian Farizal menyisakan pilu yang mendalam. Ia tidak gugur dalam situasi pertempuran terbuka, melainkan saat tengah menunaikan ibadah Salat Isya.
Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Dimar Bahtera, yang datang melayat, mengungkapkan kronologi yang ia terima.
"Jadi waktu salat, jadi bukan waktu Salat Subuh tapi pada saat Salat Isya. Jadi ketika Salat Isya yang bersangkutan sedang melaksanakan salat dan di situ sedang ada mortir ya, artileri yang jatuh di samping masjid. Kurang lebih seperti itu," kata Dimar.
Baca Juga: Enggan Disalahkan, Israel Singgung Peran Hizbullah dalam Kasus 3 Prajurit TNI Tewas di Lebanon
Momen sakral yang seharusnya menjadi waktu beribadah berubah menjadi detik-detik terakhir bagi Farizal. Ledakan mortir yang jatuh di dekat masjid tempatnya salat merenggut nyawanya seketika, meninggalkan duka yang tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga rekan-rekannya di medan tugas.
Bagi Dimar, kehilangan ini terasa sangat personal. Selain sama-sama berasal dari Kulon Progo, ia mengenal Farizal sebagai sosok prajurit yang tak biasa.
"Saya dekat dengan beliau (Farizal). Jadi almarhum ini sosok yang luar biasa menjadi panutan bagi adik-adiknya. Termasuk juga kita yang seniornya pun, atasan pun kita sangat menghargai dia," katanya.
Farizal dikenal sebagai prajurit yang disiplin dan berdedikasi tinggi. Ia dipercaya mengemban tugas sebagai Provost, posisi yang menuntut standar keteladanan lebih dibanding prajurit lain. Kepada sosok seperti inilah Dimar kerap menitipkan tanggung jawab untuk membimbing rekan-rekan yang lebih muda.
Riwayat tugas Farizal juga menunjukkan konsistensi pengabdian. Sebelum berangkat ke Lebanon, ia lebih dulu menjalankan penugasan di Papua dengan hasil baik. Kesempatan bergabung dalam misi perdamaian internasional pun ia raih melalui proses seleksi panjang.
Baca Juga: Israel Buka Suara Soal Kematian 3 Prajurit TNI di Lebanon
"Kemudian ada rekrutmen penugasan ke Lebanon melalui seleksi yang cukup panjang dan almarhum lolos dengan hasil yang bagus sehingga mendapatkan hak untuk berangkat tugas ke luar negeri," ceritanya.
Kini, setelah kepergiannya, proses penanganan jenazah masih berlangsung di Lebanon. Dimar menjelaskan bahwa jenazah Farizal telah dievakuasi ke markas sektor timur UNIFIL.
"Di headquarter sudah ada di penyalatan jenazah dan lain semuanya oleh rekan-rekan yang satu area ya," katanya.
Selanjutnya, jenazah akan disemayamkan untuk penghormatan terakhir dari rekan satu tim sebelum dibawa ke rumah sakit di Beirut guna menjalani prosedur autopsi standar. Setelah itu, proses repatriasi akan dilakukan oleh pihak PBB atau UNIFIL untuk memulangkan jenazah ke Indonesia.
Hingga kini, belum ada kepastian waktu kedatangan jenazah di kampung halaman. Namun, keluarga telah menyampaikan keinginan agar Farizal dimakamkan di tanah kelahirannya di Kulon Progo.
"Pemakamannya di sini sesuai dengan permintaan keluarga. Penghormatan dari negara itu ada upacara kehormatan, penghormatan pemakaman secara militer. Dan nanti saya rencananya yang akan memimpin upacara," pungkasnya.
Praka Farizal Rhomadhon (Instagram)