Trump Kembali Kelakar Sebut Kuba Bisa Jadi Target Berikutnya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Mar 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Kuba berpotensi menjadi target berikutnya setelah Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 27 Maret 2026 dalam sebuah forum investasi di Arab Saudi.

Dilansir dari Reuters, Senin, 30 Maret 2026, Trump merujuk pada apa yang ia anggap sebagai keberhasilan operasi militer AS sebelumnya di Venezuela dan Iran.

"Saya membangun militer yang hebat ini. Saya berkata, 'Anda tidak akan pernah perlu menggunakannya,' tetapi terkadang Anda harus menggunakannya. Dan Kuba adalah target selanjutnya," kata Trump dalam forum Future Investment Initiative.

"Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu. Tolong, anggap saya tidak mengatakannya. Tolong, tolong, tolong, media, tolong abaikan pernyataan itu," tambahnya.

Baca Juga: Gas Air Mata Ditembakkan Polisi, Demo Tolak Presiden Trump di Los Angeles Berujung Penangkapan Massal

Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa negaranya terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat, namun menolak kompromi terkait kedaulatan nasional.

Dalam pernyataannya kepada media Canal Red di Havana, Díaz-Canel menyebut berbagai isu dapat dibahas dalam negosiasi, mulai dari investasi asing, migrasi, hingga kerja sama di bidang lingkungan dan pendidikan.

“Kami dapat membahas semuanya, tetapi kedaulatan kami harus dihormati. Kemerdekaan dan sistem politik kami tidak pernah terbuka untuk diskusi,” katanya.

Pernyataan dari kedua pemimpin ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana, di tengah dinamika geopolitik kawasan yang terus berkembang.

x|close