Ntvnews.id, Jakarta - Empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI ditahan Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia (Puspom TNI) buntut peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Keempat prajurit TNI itu kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Pomdam Jaya.
Para tersangka antara lain berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Mereka semua merupakan personel BAIS yang bertugas di Detasemen Markas (Denma) dan berasal dari matra TNI Angkatan Udara (AU) dan TNI Angkatan Laut (AL).
Pasca pengumuman oleh Puspom TNI itu, beredar informasi terkait nama jelas dari para tersangka. Bukan cuma itu, peran terduga pelaku juga beredar.
Berdasarkan informasi yang didapat, Letnan Satu (Lettu) BHW ialah orang yang wajahnya tertangkap kamera CCTV dan gambarnya dirilis oleh Polda Metro Jaya. BHW disebut bertugas sebagai joki atau pengendara motor yang membonceng eksekutor, atau penyiram air keras terhadap Andrie. Ia berasal dari Korps Zeni (Czi).
Sementara penyiram air keras ke Andrie, ialah anggota TNI berpangkat bintara, yakni Serda ES. Saat kejadian, ES dibonceng oleh Lettu BHW. ES dan BHW gambar wajahnya sama-sama tertangkap kamera CCTV, dan disebar kepolisian.
Kemudian, Kapten NDP disebut sebagai otak atau perencana yang mengatur koordinasi penyerangan. Ia merupakan perwira pertama di kesatuan elite dan berasal dari kecabangan Infanteri (Inf).
Selanjutnya, Letnan Satu (Lettu) SL bertugas untuk mengawasi situasi di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ia juga memastikan bahwa rute pelarian terduga pelaku aman. SL berasal dari TNI AL.
Polda Metro Jaya sendiri juga telah menyampaikan identitas dari tersangka eksekutor dan pria yang memboncengnya.
"Satu inisial BHC, dua inisial MHK," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, Rabu, 18 Maret 2026.
Inisial ini tak ada yang sama dengan yang disampaikan oleh Puspom TNI. Walau begitu, segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Bisa saja identitas yang berbeda ini, lantaran prajurit TNI yang jadi tersangka merupakan personel BAIS, di mana sehari-hari mereka harus menyamarkan identitas asli, guna menjalankan tugasnya. Maupun kemungkinan-kemungkinan lainnya, yang membuat adanya perbedaan identitas.
Sebelumnya, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tak dikenal (OTK) pada Kamis, 12 Maret 2026 malam. Akibatnya ia mengalami luka bakar pada tubuhnya hingga 24 persen. Matanya sebelah kiri juga mengalami kerusakan gara-gara serangan itu.
Penyiraman air keras terjadi usai Andrie rekaman untuk podcast, dengan tema terkait militerisme yang digelar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng, Jakarta Pusat.
Polisi lantas melakukan penyelidikan dan berhasil mengungkapkan fakta-fakta penting kasus ini. Termasuk wajah pelaku penyiraman air keras, hingga lokasi awal kedatangan dan pelarian para pelaku.
Saat konferensi pers kedua oleh Polda Metro Jaya terkait kasus ini, di saat yang bersamaan Puspom TNI menggelar jumpa pers yang menyatakan bahwa mereka menerima empat anggota BAIS TNI terduga pelaku penyiraman air keras Andrie. Keempat tersangka saat ini telah ditahan di Rutan Pomdam Jaya dan tengah diperiksa secara mendalam, salah satunya untuk mengungkap motif para pelaku.
Tampang penyiram air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. (NTVNews.id)