Tegas, PM Spanyol Pedro Sanchez Balas Ancaman Dagang Trump: Tidak untuk Perang!

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mar 2026, 21:33
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
PM Spanyol Pedro Sanchez. PM Spanyol Pedro Sanchez. (BBC)

Ntvnews.id, Jakarta - Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyampaikan tanggapan tegas terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berencana memutus seluruh hubungan perdagangan dengan Spanyol. Dalam pidato yang disiarkan secara nasional selama sekitar 10 menit, aánchez kembali menegaskan penolakannya terhadap perang dan mengkritik apa yang ia sebut sebagai “keruntuhan hukum internasional”.

Dalam pidatonya, Sánchez menyinggung perang di Ukraina dan Gaza, serta mengingatkan kembali invasi Irak lebih dari dua dekade lalu. Ia menegaskan bahwa sikap pemerintah Spanyol dapat dirangkum dalam satu kalimat sederhana: “Tidak untuk perang”. Demikian dilansir dari laman BBC, Rabu, 4 Maret 2026.

Ancaman Trump muncul setelah Madrid menolak memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer bersama di Moron dan Rota guna melancarkan serangan terhadap Iran.

“Spanyol sangat buruk,” kata Trump dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, pada Selasa, 3 Maret 2026 waktu setempat.

“Kami akan memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin ada urusan apa pun dengan Spanyol,” tambahnya.

Merz kemudian mengatakan bahwa ia telah menyampaikan dengan sangat jelas kepada Trump bahwa tidak mungkin menyepakati perjanjian perdagangan terpisah dengan Jerman atau seluruh Eropa tanpa melibatkan Spanyol.

Menanggapi ancaman ekonomi dari Washington, Istana Élysée menyatakan bahwa Presiden Prancis, Emmanuel Macron

, telah menyampaikan “solidaritasnya” kepada Spanyol dalam percakapan telepon dengan Sánchez pada Rabu. Presiden Dewan Eropa, António Costa, juga mengatakan telah berbicara dengan pemimpin Spanyol tersebut untuk “menyampaikan solidaritas penuh Uni Eropa”.

Trump sebelumnya menuduh Spanyol sebagai “mitra yang buruk” dalam NATO karena tidak meningkatkan anggaran pertahanan sesuai target 5 persen dari produk domestik bruto.

Awal tahun ini, Sánchez juga memicu kemarahan Trump setelah secara terbuka menentang intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela.

Dalam pidatonya dari kediaman resmi perdana menteri di La Moncloa, Madrid, Sánchez mengatakan pemerintah sedang mempelajari langkah-langkah ekonomi untuk mengurangi dampak konflik terhadap warga Spanyol, meskipun ia tidak secara langsung menyebut ancaman perdagangan dari Trump.

“Pertanyaannya bukan apakah kita berada di pihak para ayatollah, tidak ada yang berada di sana. Pertanyaannya adalah apakah kita mendukung perdamaian dan legalitas internasional.”

“Kita tidak bisa menjawab satu pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lainnya, karena di situlah bencana besar kemanusiaan bermula.”

Sanchez menjelaskan bahwa posisi pemerintahannya sejalan dengan sikap Spanyol terhadap konflik di Ukraina dan Gaza. Ia dikenal sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap respons militer Israel atas serangan Hamas pada 2023.

Spanyol termasuk salah satu pemerintah Eropa yang paling lantang mengenai Gaza. Pemerintahnya menyebut tindakan Israel sebagai “genosida” dan mengakui negara Palestina lebih awal dibandingkan banyak negara anggota Uni Eropa lainnya.

Sikap tersebut sejalan dengan mitra koalisi kiri Sanchez dan secara umum mencerminkan pandangan masyarakat Spanyol terhadap isu Timur Tengah.

Mengulas kembali invasi Irak tahun 2003, yang menurutnya gagal mencapai tujuan dan justru memperburuk kehidupan masyarakat biasa, aánchez memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat menimbulkan dampak ekonomi serupa bagi jutaan orang.

Rujukannya terhadap Irak memiliki makna kuat bagi pemilih Spanyol. Dukungan pemerintah konservatif Partai Rakyat saat itu terhadap invasi sangat tidak populer dan memicu demonstrasi besar-besaran menentang perang. Banyak pihak meyakini kebijakan tersebut turut membuka jalan bagi kemenangan mengejutkan Partai Sosialis dalam pemilu Maret 2004, yang berlangsung beberapa hari setelah Madrid diguncang serangan bom jihad yang mematikan.

Sanchez juga mengingatkan publik pada “trio Azores” yang terdiri dari Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dan pemimpin konservatif Spanyol José María Aznar, yang bertemu di sebuah pangkalan militer Spanyol beberapa hari sebelum invasi Irak dimulai.

Menurut Sanchez, pertemuan tersebut telah memberikan kepada warga Eropa “hadiah” berupa “dunia yang lebih tidak aman dan kehidupan yang lebih buruk”.

Sikap Sanchez sangat kontras dengan Kanselir Jerman Merz, yang mengatakan kepada televisi Jerman bahwa perubahan rezim di Iran akan membuat dunia “sedikit lebih baik”, meskipun ia juga mengakui langkah itu “bukan tanpa risiko dan kita juga harus menanggung konsekuensinya”.

Berbeda dengan sejumlah sekutu NATO lainnya seperti Inggris, Prancis, dan Yunani, Spanyol hingga kini belum berkomitmen untuk terlibat secara militer dalam merespons perang tersebut.

Di akhir pidatonya, Sanchez menyatakan ia ingin menyampaikan solidaritas rakyat Spanyol kepada negara-negara yang telah “diserang secara ilegal oleh rezim Iran”.

x|close