Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah menegaskan bahwa komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai 4,5 miliar dolar Amerika Serikat dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia-Amerika Serikat tidak akan membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa pemerintah hanya berperan sebagai regulator sekaligus pengawas standar mutu dalam kerja sama tersebut.
"Pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu, sementara keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta," ujar Haryo dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menjelaskan komitmen pembelian komoditas pertanian dari Amerika Serikat telah ditindaklanjuti melalui penandatanganan nota kesepahaman antara perusahaan-perusahaan terkait.
Proses tersebut berlangsung dalam dua tahap, yakni pada 7 Juli 2025 serta pada ajang Indonesia-AS Business Summit tanggal 19 Februari 2026, dengan dukungan asosiasi dunia usaha seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia
Baca Juga: Bakom Sebut Perjanjian Dagang Indonesia-AS Tetap Lindungi Kepentingan Nasional
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat Amerika Serikat merupakan mitra dagang strategis sekaligus tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia.
Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 31,0 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar 11 persen dari total ekspor nasional sebesar 282,9 miliar dolar Amerika Serikat.
Menurut Haryo, menjaga akses pasar AS melalui pola perdagangan yang lebih seimbang menjadi langkah rasional guna mempertahankan daya saing produk nasional.
Ia menambahkan, selama ini Indonesia mengimpor sejumlah komoditas pertanian seperti gandum yang menjadi bahan baku utama industri pengolahan, termasuk produk makanan olahan berorientasi ekspor.
Dengan opsi pasokan yang semakin luas dan kompetitif, pelaku usaha dinilai dapat memperoleh bahan baku yang stabil, berkualitas, serta berharga bersaing.
Baca Juga: BRIN Nilai Perjanjian Dagang RI-AS Bisa Dongkrak Ekspor 15 Persen
Terkait komposisi impor, Haryo menyebut bahwa pada 2025 nilai impor komoditas pertanian Indonesia dari AS mencapai sekitar 1,21 miliar dolar Amerika Serikat, sedangkan dari negara lain sebesar 13,2 miliar dolar Amerika Serikat. Artinya, porsi impor pertanian dari AS berada di kisaran 9,2 persen.
Ia mencontohkan impor sereal (HS10) dari AS sebesar 375,9 juta dolar Amerika Serikat dari total 3,7 miliar dolar Amerika Serikat, serta impor kedelai (HS12) dari AS sebesar 1 juta dolar Amerika Serikat dari total 1,6 miliar dolar Amerika Serikat.
"Hal ini menunjukkan ruang penyesuaian pasokan tetap berbasis pertimbangan komersial dan tidak menimbulkan beban fiskal," ujar dia.
Lebih lanjut, ia memastikan fasilitasi impor dalam kerangka ART Indonesia-AS tetap diarahkan untuk memperkuat akses pasar dan mendukung rantai nilai industri nasional, tanpa mengesampingkan kepentingan ekonomi serta kedaulatan nasional.
Pemerintah juga akan menjamin seluruh produk impor memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku. Apabila terjadi gangguan pada pasar domestik, langkah sesuai regulasi akan segera ditempuh demi menjaga stabilitas.
(Sumber: Antara)
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menandatangani kesepakatan dagang terkait tarif resiprokal atau Agreements on Reciprocal Trade (ART).