Kemenkes Tegaskan Tidak Ada Kasus Positif Virus Nipah di Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Feb 2026, 15:54
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi: Petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Semarang mengawasi suhu tubuh penumpang asal Malaysia dengan alat pemindai suhu tubuh digital setibanya di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 05 Februari 2026. ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc. Ilustrasi: Petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Semarang mengawasi suhu tubuh penumpang asal Malaysia dengan alat pemindai suhu tubuh digital setibanya di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 05 Februari 2026. ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan menegaskan belum ada kasus terkonfirmasi virus Nipah di Indonesia. Sejumlah laporan pasien suspek yang muncul di beberapa daerah dipastikan seluruhnya menunjukkan hasil laboratorium negatif.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026, menyampaikan bahwa hingga kini tidak terdapat pasien positif virus Nipah di Tanah Air.

Meski demikian, sepanjang periode 2024 hingga 2026 tercatat 16 laporan kasus suspek.

"Semua hasil labnya adalah negatif," tutur Sumarjaya.

Ia merinci, dari total 16 kasus suspek tersebut, dua di antaranya dilaporkan pada 2026 masing-masing berasal dari Jawa Tengah dan Sulawesi Utara.

Sementara itu, sembilan kasus suspek tercatat pada 2025 dan lima kasus pada 2024. Provinsi yang pernah melaporkan temuan suspek meliputi Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Barat.

Baca Juga: Belum Ada Vaksinnya, Ini Gejala dan Cara Cegah Penularan Virus Nipah

Sumarjaya menjelaskan terdapat sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai terkait potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia. Salah satunya adalah temuan virus tersebut pada kelelawar, mengingat Indonesia merupakan wilayah jelajah kelelawar buah yang berpotensi membawa virus tersebut.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah tingginya mobilitas masyarakat serta kedekatan geografis Indonesia dengan negara yang pernah melaporkan kasus virus Nipah, seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Selain itu, kebiasaan berburu dan mengonsumsi kelelawar di sejumlah daerah juga dinilai sebagai faktor risiko tambahan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan, terutama di pintu-pintu masuk negara seperti pelabuhan dan bandara, guna mengantisipasi potensi penyebaran.

"Kita tahu penularannya itu kontak erat. Artinya, sebenarnya sudah disampaikan risikonya rendah, tapi artinya yang penting itu pencegahan," ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Sumarjaya.

Baca Juga: Pramono: Alhamdulillah Sampai Hari Ini Tak Ditemukan Virus Nipah di Jakarta

(Sumber: Antara) 

x|close