Ntvnews.id, Gaza - Kelompok Hamas memberikan pernyataan terkait rencana pengiriman Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) ke Jalur Gaza, di mana Indonesia ditunjuk sebagai salah satu wakil komandannya.
Dalam pertemuan perdana “Dewan Perdamaian” yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Kamis lalu, diumumkan bahwa sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan berkontribusi dengan mengirimkan pasukan untuk ISF. Indonesia bahkan dipercaya menduduki posisi wakil komandan pasukan tersebut.
"Posisi kami mengenai pasukan internasional sudah jelas," kata juru bicara Hamas, Qassem, dilansir dari AFP, Senin, 23 Februari 2026.
"Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza," imbuhnya kepada AFP.
Baca Juga: Trump: Hamas Akan Ditindak Tegas Jika Tak Lucuti Senjata
ISF dirancang memiliki kekuatan hingga 20.000 personel militer serta satuan kepolisian baru. Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengirimkan sampai 8.000 prajurit dalam misi tersebut.
Nickolay Mladenov, yang ditunjuk Amerika Serikat sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza, juga mengumumkan dalam pertemuan Dewan Perdamaian bahwa proses perekrutan pasukan polisi pasca-Hamas di Gaza telah dimulai.
"Melatih pasukan polisi Palestina dalam kerangka nasional mereka bukanlah masalah jika tujuannya adalah untuk menjaga keamanan internal di Jalur Gaza dan menghadapi kekacauan yang ingin diciptakan oleh pendudukan dan milisinya," tambah Qassem.
Arsip foto - Anggota pasukan Brigade Al-Qassam, sayap militer kelompok perlawanan Palestina, Hamas. ANTARA/Anadolu/as/am. (Antara)
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen TNI Donny Pramono menyebut Indonesia siap mengirim sekitar 1.000 personel pada April, yang berpotensi bertambah hingga 8.000 personel pada akhir Juni tahun ini.
Indonesia menjadi negara pertama yang secara terbuka menyatakan kesiapan mengirim pasukan ke Gaza. Jika terealisasi, kontribusi tersebut akan menjadi salah satu yang terbesar dalam misi penjaga perdamaian global. Namun, penempatan pasukan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Prabowo.
Selain Indonesia, Presiden Trump juga menyebut Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania sebagai negara-negara yang telah berkomitmen menyediakan pasukan untuk ISF.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menyampaikan bahwa pihak Palestina memahami rencana pengiriman ISF ke Gaza. Menurutnya, perwakilan Palestina turut hadir dalam pertemuan Board of Peace di Washington DC.
Baca Juga: Hamas Tegaskan Tolak Pelucutan Senjata dan Intervensi Asing di Gaza Palestina
"Kemarin juga ada Palestina, Prof Dr Ali Shaath, ada di sana sebagai perwakilan Palestina yang juga merupakan chairman NCAG, National Committee on Administration of Gaza. Jadi Palestina juga sudah ada di sana, sudah tahu, sudah paham. Kemudian, kita juga sudah menyampaikan national caveat kita, jadi semuanya sudah terlibat," kata Sugiono.
Ia menambahkan bahwa Ali Shaath menyampaikan Palestina membutuhkan kondisi yang aman dan stabil sebagai tahapan awal sebelum langkah-langkah berikutnya dijalankan di Gaza.
"Pertama, yang mereka butuhkan adalah situasi yang aman dan stabil. Jadi semua rencana komprehensif, kunci pertamanya adalah gencatan senjata, kemudian menciptakan suasana yang aman dan stabil. Baru tahap-tahap berikutnya itu bisa dilakukan dan itu juga kemarin sudah disampaikan," katanya.
Anggota pasukan Brigade Al Qassam, sayap militer kelompok perlawanan Hamas Palestina. (ANTARA)