Ntvnews.id, Bangkok - Thailand menggelar pemilihan umum hari ini yang menjadi ajang persaingan sengit antara kubu reformis progresif dan kelompok konservatif yang saat ini memegang kendali pemerintahan.
Dilansir dari AFP, Senin, 9 Februari 2026, warga Thailand mulai mendatangi tempat pemungutan suara untuk memberikan hak pilih dalam pemilu yang menunjukkan reformis progresif unggul dalam survei. Meski demikian, perdana menteri petahana dari kubu konservatif diperkirakan masih mampu mempertahankan jabatannya, sehingga kebuntuan politik di negara itu berpotensi berlanjut.
Salah satu pemilih, Yuernyong Loonboot (64), berharap muncul sosok pemimpin yang tegas untuk menjaga kedaulatan Thailand. Ia mengaku tak pernah membayangkan akan menghadapi kemungkinan konflik di perbatasan.
"Kita membutuhkan pemimpin yang kuat yang dapat melindungi kedaulatan kita. Tinggal di sini, konflik perbatasan membuat saya cemas. Perang bukanlah sesuatu yang pernah kami pikirkan sebelumnya," katanya.
Baca Juga: Lisa BLACKPINK Ditunjuk Jadi Duta Pariwisata Thailand
Pemerintahan Thailand berikutnya juga akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, jumlah wisatawan yang belum pulih ke tingkat pra-pandemi Covid-19, hingga maraknya jaringan penipuan siber lintas negara bernilai miliaran dolar dan sengketa perbatasan dengan Kamboja.
Perdana Menteri Thailand sekaligus petahana, Anutin Charnvirakul, menyampaikan harapannya agar pemilih tetap memberikan kepercayaan kepada partainya setelah mencoblos pada Minggu.
"Kami telah melakukan semua yang kami bisa, tetapi kami tidak dapat memaksa hati publik," katanya kepada wartawan di Buriram.
"Semoga mereka akan mempercayai kami," imbuhnya. Partai Bhumjaithai yang dipimpin Anutin diketahui berada di posisi kedua dalam jajak pendapat.
Bangkok, Thailand (Tangkapan Layar)
Di sisi lain, Partai Rakyat progresif memimpin survei elektabilitas menjelang pemilu. Namun, meskipun pendahulunya, partai Move Forward, meraih kursi terbanyak pada pemilu tiga tahun lalu, kandidatnya kala itu diblokir menjadi perdana menteri dan partai tersebut kemudian dibubarkan.
Pemimpin Partai Rakyat, Natthaphong Ruengpanyawut, mengatakan usai mencoblos di Bangkok bahwa ia berharap memperoleh dukungan kuat dari rakyat.
"Kami berjanji kepada rakyat bahwa kami akan membentuk pemerintahan rakyat untuk membawa kebijakan yang bermanfaat bagi semua, bukan hanya segelintir orang di negara ini," tambahnya.
Logo SEA Games 2025 Thailand (Istimewa)