Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan pertemuan dengan French Agricultural Research for International Development (CIRAD) untuk memperkuat kerja sama dalam pengelolaan hutan lestari dan pembangunan berkelanjutan berbasis sains, Rabu, 4 Februari 2026.
"Saya berharap nanti kita bersama-sama dapat membuat joint working group yang dalam hal ini dapat kita mulai dari perhutanan sosial dan konservasi," ujar Menhut Raja Juli Antoni dalam pernyataan dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Pertemuan ini berlangsung dengan Chief Executive Officer (CEO) CIRAD Elisabeth Claverie de Saint-Martin di Jakarta pada Selasa, 3 Februari 2026, sebagai tindak lanjut Declaration of Intent (DoI) on Sustainable Forestry yang telah ditandatangani Indonesia dan Prancis pada 28 Mei 2025.
Menhut Raja Juli Antoni menyambut baik kerja sama teknis antara Kementerian Kehutanan dan CIRAD. Bidang kerja sama ini sejalan dengan mandat Kementerian Kehutanan, termasuk konservasi, perhutanan sosial, dan mitigasi perubahan iklim.
Menhut menekankan program perhutanan sosial sebagai langkah awal yang strategis. Saat ini, luas kawasan hutan yang dikelola masyarakat melalui perhutanan sosial telah mencapai 8,33 juta hektare, dengan 1,4 juta penerima SK dan terbentuk 16.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
Menhut berharap kerja sama dengan CIRAD dapat memperkaya perspektif teknis dan metodologis, melalui pelatihan, lokakarya, maupun kegiatan percontohan berskala terbatas.
Baca Juga: Menhut Dorong Integrasi Kawasan Hutan ke RT/RW Demi Kepastian Hukum
Senada dengan Menhut, CEO CIRAD menyampaikan bahwa hutan tropis Indonesia memiliki banyak nilai, dan sistem agroforestri yang diterapkan di perhutanan sosial dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.
"Tropical Forest seperti di Indonesia, Congo Basin di Afrika, dan Amazonia Basin di Amerika memiliki banyak value dan sumber sains, bukan hanya konservasi tapi juga agriculture yang dalam hal ini adalah agroforestry," ungkap Elisabeth.
Berdasarkan DoI, ruang lingkup kerja sama kedua pihak mencakup pengelolaan hutan lestari, pengembangan perkebunan berkelanjutan bebas deforestasi, perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati serta kawasan konservasi, restorasi ekosistem hutan dan lanskap terdegradasi, sistem pemantauan hutan, serta pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan.
Selain itu, kerja sama juga mencakup perhutanan sosial, penguatan mata pencaharian masyarakat, ekowisata, bioekonomi sirkular, peran hutan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, penguatan manfaat non-karbon, dan pengembangan posisi bersama di forum internasional terkait kehutanan dan perubahan iklim.
Baca Juga: Menhut Bentuk Satgas Khusus Untuk Perkuat Pembiayaan 57 Taman Nasional
(Sumber: Antara)
Menhut Raja Juli Antoni (kanan) dalam pertemuan dengan CEO CIRAD Elisabeth Claverie de Saint-Martin di Jakarta pada Selasa, 3 Februari 2026. ANTARA/HO-Kemenhut (Antara)