Ntvnews.id, Jakarta - Tanti Suhermayani (55), sudah tiga bulan bekerja di Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseban, Jakarta Pusat. Awalnya, ia hanya mencuci ompreng atau wadah paket Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, kini ia mulai memasak dan kerap memperhatikan proses pembuatan MBG mulai dari persiapan bahan baku hingga distribusi. Ia menjelaskan semua bahan baku yang masuk ke dapur SPPG melalui proses pemeriksaan ketat sebelum diolah. Tanti menegaskan standar kualitas menjadi perhatian utama sejak bahan pangan tiba di lokasi.
“Begitu bahan baku datang, itu dicek dulu bagus atau enggak, segar atau enggak, layak dimasak atau tidak. Kalau memang sudah layak dan bagus, baru kami terima,” ujar Tanti dalam wawancara
“Sinergi Indonesia” yang ditayangkan di akun YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Senin, 19 Januari 2026.
Ia memaparkan alur kerja di dapur MBG berjalan berlapis dan sistematis. Setelah bahan baku dinyatakan layak, proses dilanjutkan ke tahap pemotongan. Setelah itu, bahan yang sudah langsung dimasak, dibagi sesuai porsi, dan disusun ke dalam ompreng.
“Selesai porsian, ompreng disusun sepuluh-sepuluh lalu langsung dikirim ke sekolah-sekolah,” katanya.
Baca Juga: Cek Fakta: Mahasiswa Protes Program MBG Saat Ramadhan di DPR RI
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kamalaputi Sumba Timur 2, Kota Waingapu, NTT, Jumat, 18 Juli 2025. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/am. (Antara)
Tanti mengatakan semua bekerja sesuai prosedur operasional standar atau SOP. Para pekerja di dapur memakai masker dan sarung tangan. Ia yakin SPPG Paseban menjalani proses pembuatan hingga distribusi MBG sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
“Semua pakai masker, pakai alat kerja. Saya lihat sendiri karena terjun langsung, jadi enggak perlu diragukan,” tuturnya.
Pengalaman bekerja di SPPG Paseban juga membuat Tanti memahami langsung manfaat program MBG. Salah satu hal yang dirasakannya secara pribadi yaitu program MBG telah membuka lapangan kerja.
Tanti yang sudah berusia di atas 50 tahun mengaku begitu bersyukur bisa kerja di dapur SPPG Paseban. Prosesnya juga tak dipersulit.
“Saya benar nggak percaya, nggak yakin gitu, kok saya bisa diterima. Sedangkan saya kan umur saya kan udah lebih 50 tahun,” kata dia.
Selain itu, ia melihat antusiasme anak-anak sekolah saat menerima makanan bergizi. Anak hingga cucunya yang masih balita juga dapat MBG.
Baca Juga: Airlangga: Pemerintah Siapkan Rp335 Triliun untuk Program MBG 2026
“Saya senang lihat anak-anak makan di sekolah. Anak saya juga dapat MBG, senang banget,” ujar Tanti.
Bertalian dengan itu, Tanti pun kerap mengadvokasi soal MBG ke orang-orang terdekat, terutama ke orang tua yang menolak MBG karena isu soal keamanan makanan. Ia pun berharap program MBG terus berlanjut.
“Harapan saya semoga saja MBG dilanjutin terus,” kata Tanti.
“Yang saya rasakan tuh kayak anugerah. Dari saya kenal, saya terjun di MBG. Anugerah, itu yang saya rasain,” ucapnya.
Tanti Suhermayani (55), pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Paseban, Jakarta Pusat (Bakom RI)