Ntvnews.id, Jakarta - Bukan rasa bangga yang justru hadir dalam diri setiap prajurit TNI saat sejumlah jembatan sudah dibangun dan bisa digunakan di sejumlah lokasi terdampak bencana di Aceh. Komandan Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga, Letkol Czi Rudy Haryanto, mengatakan para prajuritnya justru merasa lega.
Lelah karena bekerja bergantian dalam 24 jam tanpa henti, rasanya terbayarkan. Apalagi saat warga terdampak bencana bisa menggunakan jembatan itu untuk memulai kembali aktivitas mereka.
"Lega. Letih, yang selama ini mungkin kurang tidur dan harus terus-terusan berjibaku menyelesaikan jembatan, begitu melihat jembatan itu bermanfaat buat mereka, kami hanya bisa terdiam dan melihat sambil mengucapkan syukur," kata Rudy dalam wawancara Sinergi Indonesia di YouTube Bakom, dikutip Senin, 19 Januari 2026.
Menurutnya, alih-alih bangga, para prajurit Zipur yang berjibaku membangun jembatan justru merasa lebih tenang. Ketenangan itu timbul karena masyarakat bisa terbantu dengan jerih-payah yang sudah mereka lakukan.
Baca Juga: Progres Pesat Pembangunan Jembatan di Aceh, Akses Warga di Desa Segera Pulih
"Bukan kebanggaan yang kami dapatkan, tapi rasa ketenangan karena melihat masyarakat bisa terbantu dengan jembatan yang dibangun. Yang sebelumnya mereka harus menuruni jurang, menyebrangi sungai, naik jurang lagi, namun dengan ada jembatan tersebut, mereka tidak perlu lagi harus turun dan naik jurang," jelas Rudy.
Lebih lanjut, dia berharap masyarakat terdampak tak khawatir. Dia memastikan semua infrastruktur dasar seperti jembatan akan terus diperbaiki. Dia berharap masyarakat juga lebih bersabar dan mengerti jika membangun jembatan tak bisa cepat.
"Mudah-mudahan masyarakat bisa mengerti karena dengan segala keterbatasan yang ada, mau ditambah pun personelnya, kondisi yang ada memang membutuhkan waktu," ujar dia.
Baca Juga: Rampung dalam Dua Minggu, Kolaborasi TNI - Warga Sindupaten Selesaikan Jembatan Gantung Garuda
Rudy menjelaskan, tantangan di lapangan tidak hanya soal jembatan yang hilang atau rusak, tetapi juga material banjir yang menumpuk dan mengunci akses. Banyak jembatan tersumbat kayu, puing rumah, dan sampah banjir; sementara di beberapa titik, jalan menuju jembatan justru tergerus aliran sungai.
Ia mencontohkan kondisi di Teupin Mane, yang mengalami perubahan lebar sungai cukup drastis pascabanjir. Sebelum banjir, lebar sungai 120 meter, namun setelahnya menjadi 180 meter.
Alhasil, para prajurit harus membersihkan wilayah kerja dulu, kemudian menyiapkan pemasangan jembatan darurat untuk menghubungkan jalan yang terputus.
TNI bekerja sama lakukan progres pembangunan jembatan di Provinsi Aceh (Dokumentasi)