Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyatakan dirinya tidak keberatan untuk melakukan introspeksi dan meninjau ulang kebijakan-kebijakan yang telah diambil, terutama ketika muncul kritik dari sejumlah pihak yang menilai dirinya berupaya menghidupkan kembali praktik militerisme di Indonesia.
Berbicara di hadapan jemaat Kristiani dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Senin, 5 Januari 2026 malam, Prabowo menegaskan bahwa kritik dan koreksi justru menjadi hal penting yang dapat menyelamatkannya sebagai pemimpin.
"Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi, saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: Prabowo ini mau hidupkan kembali militerisme! Wah, baru saya koreksi. Apa bener? Oke, baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana? Iya kan. Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter," kata Prabowo dalam pidatonya saat menjelaskan sikapnya dalam merespons kritik.
Atas dasar itu, Prabowo mengaku bersyukur setiap kali menerima kritik dan koreksi dari berbagai pihak. Menurutnya, masukan tersebut justru menjadi bentuk bantuan dan perlindungan bagi dirinya.
Baca Juga: Prabowo Bakal Gelar Retret Kabinet Merah Putih Part 2 di Hambalang
"Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan," ujar Presiden Prabowo.
Presiden kemudian memberikan contoh sederhana bagaimana koreksi bisa datang dari orang-orang terdekatnya.
"Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi. Tetapi, dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak (lengkap, red.). Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan," ujar Presiden.
Prabowo Subianto di Natal Nasional (NTVnews)
Ia juga membagikan pengalaman serupa saat masih aktif berdinas di lingkungan militer.
"Ini cerita waktu saya masih aktif (di TNI, red.) ya. Saya keluar dari ruangan mau apel. Nggak tahu saya sibuk atau apa, saya lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya, (kemudian berbicara ke saya, red.) Pak! Pak! Jangan keluar Pak! Tanda pangkat Bapak tidak lengkap. Oh iya. Jadi apa? Dia mengamankan saya," sambung Presiden Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Terima Kepala BPI Danantara di Hambalang, Bahas Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak bisa menerima fitnah dan kebohongan, karena hal tersebut berpotensi menimbulkan kebencian serta perpecahan di masyarakat.
"Koreksi silakan, kritik bagus, tetapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga: Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik, apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua. Kalau di agama Islam, ada itu ajarannya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan," ujar Presiden.
Prabowo Subianto di Natal Nasional (NTVnews)