Sudaryono Dorong Sistem Prasmanan MBG, Pelatihan Jadi Prioritas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Okt 2026, 21:53
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sudaryono Sudaryono (MBG)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong penerapan sistem penyajian prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara bertahap. Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan bahwa kesiapan dapur, sekolah, serta pelatihan bagi petugas menjadi faktor utama sebelum sistem tersebut diterapkan lebih luas.

Penerapan sistem prasmanan dilakukan melalui uji coba dan evaluasi untuk memastikan pelayanan MBG berjalan efektif, memenuhi standar gizi, serta memberikan pengalaman makan yang lebih baik bagi peserta didik.

Sudaryono menjelaskan, sekolah yang ingin menggunakan sistem prasmanan harus terlebih dahulu mengikuti proses pendaftaran dan pelatihan. Langkah ini diperlukan agar seluruh pihak memahami mekanisme pelayanan dan mampu menjalankannya sesuai ketentuan.

"Prasmanan ini bukan berarti bisa diterapkan begitu saja. Dapurnya harus dilatih, sekolahnya juga harus dilatih, dan kami harus memastikan semuanya siap. Setelah itu, baru bisa diterapkan secara bertahap dengan standar yang sama," ujarnya, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurut Sudaryono, sistem prasmanan berpotensi meningkatkan efektivitas distribusi makanan sekaligus memberikan fleksibilitas bagi siswa yang membutuhkan tambahan porsi.

Dalam mekanisme ini, setiap siswa tetap memperoleh porsi awal sesuai takaran gizi yang telah ditentukan. Setelah seluruh siswa mendapatkan makanan, siswa yang masih membutuhkan tambahan dapat mengambil makanan kembali sesuai ketersediaan.

Meski memberikan fleksibilitas, Sudaryono menegaskan bahwa penerapan prasmanan tidak boleh mengabaikan standar pemenuhan gizi. Setiap komponen makanan, mulai dari nasi hingga sumber protein, tetap harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

"Porsi awal tetap harus ditakar sesuai standar. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, disiapkan pula makanan tambahan untuk siswa yang masih membutuhkan. Dengan begitu, kebutuhan makan siswa dapat dilayani dengan lebih baik," jelasnya.

Sudaryono <b>(BGN)</b> Sudaryono (BGN)

Tambahnya, pengalaman awal penerapan sistem prasmanan menunjukkan respons yang positif. Meski demikian, BGN tetap melakukan evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari kebutuhan tenaga pendamping hingga penyesuaian pelayanan berdasarkan jenjang kelas dan karakteristik siswa.

Menurutnya, kebutuhan siswa sekolah dasar kelas satu tentu berbeda dengan siswa kelas empat. Oleh karena itu, penerapan sistem prasmanan perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam mengambil makanan, kebutuhan pendampingan, serta kesiapan guru dan tenaga sekolah.

Selain kesiapan dapur, keterlibatan pihak sekolah juga menjadi faktor penting. Penerapan sistem prasmanan memerlukan dukungan kepala sekolah, guru, dan pemahaman orang tua mengenai aspek edukasi yang menyertainya.

Apabila sekolah belum siap menerapkan sistem tersebut, pelayanan MBG tetap dapat dilaksanakan melalui mekanisme penyajian yang telah berjalan.

"Setiap sekolah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kami ingin memastikan sekolah yang menerapkan prasmanan benar-benar siap. Standarnya harus sama, mulai dari kesiapan pelaksana hingga peralatan yang digunakan, agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru," ungkapnya.

BGN juga melakukan uji coba di berbagai wilayah, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa, termasuk Aceh, Palembang, dan Merauke. Uji coba lintas wilayah tersebut bertujuan mengidentifikasi tantangan yang mungkin muncul akibat perbedaan kondisi geografis, jarak distribusi, kebutuhan tenaga kerja, serta tingkat kesiapan pelaksana di lapangan.

Hasil evaluasi akan menjadi dasar bagi pengembangan sistem prasmanan secara bertahap. Dengan pendekatan tersebut, BGN dapat mengidentifikasi kebutuhan penyesuaian sekaligus menyiapkan langkah mitigasi sebelum penerapan diperluas ke lebih banyak sekolah dan dapur MBG.

x|close