Hakim Afsel Peraih Nobel Perdamaian Berkelakar Ingin Berbagi Penghargaan dengan Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Okt 2026, 03:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Hakim asal Afrika Selatan (Afsel), Navi Pillay, melontarkan candaan setelah meraih Nobel Perdamaian 2026. Ia menyebut kemungkinan akan berbagi penghargaan tersebut dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang selama ini secara terbuka menyatakan keinginannya mendapatkan Nobel Perdamaian.

Pillay merupakan tokoh hukum internasional yang saat ini menjadi hakim di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam perkara yang menuduh Myanmar melakukan genosida. Ia juga pernah memimpin pengadilan genosida Rwanda serta mengetuai Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tahun lalu menyimpulkan bahwa genosida terjadi di Jalur Gaza.

Dalam video yang diunggah Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, melalui media sosial X, Pillay terlihat menerima sambutan meriah, termasuk tepuk tangan sambil berdiri, di Nuremberg setelah pengumuman penghargaan tersebut.

"Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah lagi, saya mungkin akan berbagi penghargaan ini dengan Trump," kata Pillay dalam video tersebut, seperti dilansir dari AFP, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Perempuan berusia 85 tahun itu mengaku awalnya mengira kabar dirinya meraih Nobel Perdamaian hanyalah sebuah lelucon. Sebagai seorang pengacara dan hakim, ia merasa perlu memastikan kebenaran informasi tersebut sebelum mempercayainya.

"Menjadi seorang pengacara dan seorang hakim, saya tetap ingin memastikannya terlebih dahulu," ucap Pillay.

Ia kemudian mengingat kembali tugas terakhirnya sebagai pemimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB, yakni menyampaikan laporan mengenai situasi di Gaza. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa genosida sedang berlangsung di wilayah Palestina itu.

"Hal terakhir yang saya lakukan adalah penyampaian laporan mengenai Gaza, menyebut peristiwa di sana sebagai genosida," ujarnya.

Baca Juga: Demokrat Gugat Presiden Trump Terkait Penggunaan Anggaran Negara

Pillay juga mengaku terkejut ketika menerima apresiasi atas keberaniannya dalam menyampaikan laporan tersebut. Ia mempertanyakan mengapa menyuarakan kebenaran justru dianggap membutuhkan keberanian.

"Salah satu tanggapan utama terhadap laporan tersebut adalah apresiasi atas keberanian saya. Dan Anda bisa membayangkan betapa terkejutnya saya, mengapa seseorang memerlukan keberanian untuk menyuarakan kebenaran?" sebut Pillay.

Ketua Komite Nobel Norwegia, Jorgen Watne Frydnes, menilai Pillay memiliki peran besar dalam upaya menegakkan keadilan internasional, terutama terhadap berbagai pelanggaran berat.

Ia menyebut Pillay telah berperan "sangat penting dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili".

Sementara itu, dewan juri Nobel menilai "komitmen Navi Pillay terhadap prinsip-prinsip hukum universal dan keteguhan prinsip moralnya merupakan hal yang konsisten sepanjang kariernya yang panjang".

Nobel Perdamaian yang diterima Pillay mencakup medali emas, sertifikat, serta hadiah uang senilai US$ 1,2 juta atau sekitar Rp 21,4 miliar. Penghargaan tersebut dijadwalkan diserahkan dalam upacara resmi di Oslo, Norwegia, pada 10 Desember 2026.

Penghargaan bagi Pillay berpotensi menjadi kekecewaan bagi Trump, yang sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 tidak menyembunyikan ambisinya untuk meraih Nobel Perdamaian.

Pada 2025, Nobel Perdamaian diberikan kepada tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Machado kemudian menyerahkan medali emas Nobel miliknya kepada Trump.

x|close