Wali Kota di Prancis Viral Lindungi Pelajar dari Polisi dalam Aksi Demonstrasi: Mereka Anak Saya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Okt 2026, 09:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Prancis Ilustrasi - Bendera Prancis (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Wali Kota Saint-Denis, Prancis, Bally Bagayoko menjadi sorotan setelah video dirinya menghadang polisi saat aksi demonstrasi pelajar di Paris viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Bagayoko terlihat berusaha melindungi para pelajar sambil berteriak meminta polisi antihuru-hara yang membawa tameng untuk berhenti.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 9 Oktober 2026, Bagayoko memang dikenal mendukung para pelajar di kawasan pinggiran Paris yang mayoritas dihuni masyarakat kelas pekerja. Aksi tersebut berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Saat itu, Bagayoko meminta aparat tidak melakukan penyerbuan terhadap massa pelajar. Menurutnya, banyak peserta aksi tidak menunjukkan tindakan agresif terhadap polisi.

"Mereka telah memutuskan untuk menyerbu dan benar-benar mengejar para pelajar-yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi," ujar Bagayoko yang merupakan anggota partai sayap kiri radikal France Unbowed (LFI) dalam wawancara di kantornya.

Meski telah mendapat permintaan tersebut, polisi akhirnya menembakkan gas air mata ke arah kelompok demonstran. Bagayoko turut terkena gas dalam tindakan aparat itu.

Gelombang demonstrasi pelajar yang bermula dari kawasan pinggiran Paris tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Aksi itu juga mencerminkan meningkatnya keresahan publik terhadap sejumlah persoalan sosial dan pendidikan.

Protes berlangsung sekitar enam bulan sebelum pemilihan umum yang akan menentukan pengganti Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sejak aksi dimulai, lebih dari 6.000 orang telah ditangkap dan puluhan pelajar dilaporkan mengalami luka.

Baca Juga: Prancis Uji Rudal Balistik dari Kapal Selam Bertenaga Nuklir

Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja menuding aparat menggunakan tindakan keras terhadap peserta aksi yang masih di bawah umur. Mereka menyoroti penggunaan tongkat pemukul, gas air mata, hingga senjata flashball yang menembakkan peluru karet keras.

Sementara itu, otoritas Prancis menyebut ratusan anggota kepolisian juga mengalami luka. Mereka juga melaporkan sejumlah sekolah dibakar atau dijarah, sementara guru dan warga sipil menjadi korban dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

Saint-Denis, yang memiliki tingkat kemiskinan lebih dari dua kali rata-rata nasional Prancis, menjadi salah satu titik awal demonstrasi pelajar pada akhir September. Aksi tersebut dipicu berbagai persoalan di sektor pendidikan, mulai dari ruang kelas yang terlalu penuh dan tidak layak, kekurangan tenaga pengajar, hingga ketimpangan kesempatan.

"Protes bukanlah hal baru di sini. Hal itu terjadi setiap awal tahun ajaran. Janji Republik (tentang kesetaraan), khususnya bagi lingkungan kelas pekerja dan juga wilayah pedesaan, tidak dihormati," kata Bagayoko.

Bagayoko menilai pemerintah Prancis perlu menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas investasi. Ia juga mendorong peningkatan pajak bagi kelompok miliarder.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan pemerintah akan mengevaluasi tuntutan para pelajar dan menyampaikan sejumlah usulan pada akhir Oktober. Namun, dia belum membeberkan secara rinci langkah yang akan diambil.

Pemerintah Prancis sebelumnya mengisyaratkan adanya keterlibatan politisi LFI dalam aksi protes tersebut. Bagayoko membantah tudingan itu dan menilai anggapan tersebut justru merendahkan para pelajar yang turun ke jalan.

Sebagai ayah dari empat anak, Bagayoko menyatakan kepeduliannya terhadap para pelajar yang mengikuti demonstrasi. Dia menilai mereka memiliki posisi yang sama seperti anak-anaknya sendiri sehingga dirinya merasa bertanggung jawab untuk mendampingi mereka.

"siswa-siswa SMA yang turun ke jalan itu bisa saja anak-anak saya sendiri, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mendampingi mereka".

x|close