Ntvnews.id, Jakarta -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengklarifikasi tangkapan layar yang beredar luas di media sosial mengenai respons akun Instagram resmi @infobmkg terhadap unggahan Sekretariat Kabinet (Setkab). BMKG menegaskan bahwa gambar yang memicu persepsi tidak responsif tersebut merupakan hasil rekayasa atau suntingan digital.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa potongan gambar tersebut disunting (crop/combine) secara tidak bertanggung jawab oleh pihak tertentu hingga memunculkan mispersepsi di tengah masyarakat.
"Perlu kami tegaskan tangkapan layar komentar dari admin @infobmkg merupakan jawaban atas pertanyaan spesifik salah satu warganet mengenai aktivitas vulkanik. Komentar tersebut bukan bentuk bantahan atau koreksi resmi BMKG terhadap unggahan Sekretariat Kabinet," tegas Guswanto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9).
Ia menekankan bahwa imbauan dari Setkab mengenai potensi dampak sebaran debu vulkanik dan keselamatan penerbangan pada dasarnya sejalan dengan ranah operasional analisis meteorologi penerbangan (volcanic ash advisory) yang terus dipantau oleh BMKG.
Guna meluruskan pemahaman publik, BMKG turut memperjelas pembagian wewenang institusional antara BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi KESDM.
Guswanto memaparkan bahwa PVMBG memegang wewenang penuh dalam memantau aktivitas vulkanik internal gunung api, menetapkan tingkat status kebencanaan, serta mengeluarkan peringatan awal erupsi. Di sisi lain, BMKG berfokus memantau cuaca, iklim, gempa bumi tektonik, tsunami, hingga pergerakan sebaran abu vulkanik di atmosfer untuk menunjang keselamatan penerbangan.
Guswanto mengimbau masyarakat untuk mengakses kanal resmi kedua lembaga guna mendapatkan informasi yang akurat. Perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat diakses melalui laman resmi BMKG, sementara perkembangan status aktivitas gunung api dipantau melalui kanal PVMBG.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dan menyaring seluruh informasi di ruang publik guna mencegah timbulnya kesalahpahaman. Imbauan serupa ditujukan kepada media dan pembuat konten agar menyelaraskan narasi yang disebarkan.
Baca Juga: PVMBG Tegaskan Erupsi Masih Bisa Terjadi
"Langkah sederhana ini sangat berarti agar masyarakat mendapatkan gambaran informasi yang utuh, jujur, dan tidak terpecah belah oleh persepsi yang keliru," kata Guswanto.
(Sumber: Antara)
Petugas BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu sedang melakukan monitoring dan analisa laporan gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (11/9/2026). (Antara)