Ntvnews.id, Madrid - Gelombang panas yang diperkirakan melanda Prancis dan Spanyol pada pekan ini dikhawatirkan akan semakin menyulitkan upaya pemadaman kebakaran hutan yang masih berkobar di sejumlah wilayah Eropa. Kondisi tersebut terjadi ketika benua itu menghadapi salah satu musim kebakaran terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Dilansir dari DW, Rabu, 29 Juli 2026, Badan meteorologi Prancis memperkirakan suhu udara akan menembus 40 derajat Celsius mulai Selasa, 28 Juli 2026. Di Spanyol, badan cuaca AEMET memprediksi gelombang panas baru akan berlangsung mulai Rabu, 29 Juli 2026 hingga akhir pekan, dengan suhu maksimum mencapai 42 derajat Celsius di wilayah timur laut dan sekitar 39 derajat Celsius di bagian tengah negara itu.
Otoritas setempat menyebut perpaduan suhu tinggi, angin kering, dan kelembapan udara yang rendah akan meningkatkan risiko kebakaran ke level "ekstrem". Ancaman tersebut diperparah oleh kondisi hutan yang sudah sangat kering akibat gelombang panas yang berulang sepanjang tahun.
Ribuan personel pemadam kebakaran bersama armada pesawat pengebom air terus berupaya menjinakkan api sebelum suhu kembali meningkat. Para ahli menilai besarnya skala kebakaran kali ini berkaitan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas akibat perubahan iklim, yang menciptakan kondisi lebih panas dan kering sehingga kebakaran menjadi lebih merusak.
Di Prancis, Presiden Emmanuel Macron menyampaikan bahwa salah satu kebakaran di wilayah Landes telah berhasil dikendalikan. Namun, kebakaran yang jauh lebih besar di kawasan dekat Bordeaux masih berlangsung setelah melalap sekitar 42.000 hektare lahan, memaksa sekitar 220.000 orang mengungsi, serta menghancurkan ratusan rumah.
"Beberapa pekan ke depan akan berat. Kita harus tetap bertahan," kata Macron.
Baca Juga: Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Warga Diminta Waspadai Heatstroke
Sementara itu di Spanyol, kebakaran hutan di sebelah barat Madrid dan sejumlah wilayah lain telah memaksa sekitar 60.000 warga meninggalkan rumah mereka.
Menghadapi ancaman gelombang panas yang berpotensi mempercepat penyebaran api, Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan beberapa jam ke depan akan menjadi "sangat menentukan" dalam upaya mengendalikan kebakaran di sekitar Madrid.
Sejak awal 2026, kebakaran hutan telah menghanguskan sekitar 150.000 hektare lahan di Spanyol dan sekitar 115.000 hektare di Prancis.
Maria Angeles Canete, pemilik area perkemahan di dekat Navaluenga, wilayah barat Madrid, yang terdampak kebakaran terbesar dalam sejarah Spanyol, mengaku kehilangan seluruh aset keluarganya.
"Tadinya kami punya tempat disini, dan semuanya hilang. Kami tidak punya apa-apa lagi," ujarnya kepada AFP.
Uni Eropa Tambah Bantuan Pemadaman
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)
Uni Eropa mengirimkan tambahan pesawat pemadam kebakaran ke Prancis untuk membantu mengatasi situasi. Meski demikian, Komisioner Uni Eropa Hadja Lahbib mengingatkan bahwa kapasitas sumber daya pemadaman semakin terbebani seiring meluasnya kebakaran ekstrem di kawasan Eropa selatan dan tengah.
"Kondisi ekstrem juga mengancam Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko, selain Prancis dan Semenanjung Ibera, situasinya diperkirakan memburuk, termasuk di Portugal mulai hari ini (28/07)," kata Lahbib.
Di Italia, otoritas melaporkan kebakaran hutan di wilayah selatan Puglia telah memaksa ratusan wisatawan dievakuasi dari kawasan pantai dan lokasi perkemahan demi keselamatan mereka.
Seorang wanita sedang mendinginkan badan di sebuah sistem kabut pendingin saat gelombang panas di Budapest, Hongaria, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)