Dari Doa Orang Tua hingga Amanah di Pundak, Kisah Peraih Adhi Makayasa 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jul 2026, 17:09
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Babak baru dimulai bagi para perwira muda Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) Babak baru dimulai bagi para perwira muda Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) (Sekretariat Presiden)

Ntvnews.id, Jakarta - Di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026, sebuah babak baru dimulai bagi para perwira muda Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, mereka mengucapkan janji untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Di antara para perwira yang dilantik dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri Tahun 2026 tersebut, berdiri Calvin Tidar Sakti dan Yehezkiel Bonaventura Yudaniarman. Keduanya meraih Adhi Makayasa, penghargaan bagi lulusan terbaik dari akademi masing-masing.

Bagi Calvin, peraih Adhi Makayasa Akademi Militer 2026, pelantikan langsung oleh Presiden menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam perjalanan hidupnya. Namun, lebih dari kebanggaan atas pangkat yang kini tersemat di pundaknya, ia menangkap pesan mendalam dari arahan Presiden.

“Bapak Presiden juga menyatakan bahwa pangkat yang tertempel di pundak kami ini bukan hanya sebuah tanda kehormatan ataupun sebuah pangkat, tapi ini juga merupakan suatu tanggung jawab dan juga amanah dari rakyat kepada kami Tentara Nasional Indonesia, Angkatan Darat khususnya,” ujar Calvin.

Peraih Adhi Makayasa dari Akmil, AAL, AAU, dan Akpol <b>(Youtube Sekretariat Presiden)</b> Peraih Adhi Makayasa dari Akmil, AAL, AAU, dan Akpol (Youtube Sekretariat Presiden)

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Bagi Calvin, kesempatan bertemu dan dilantik langsung oleh Presiden Prabowo merupakan motivasi untuk terus bertumbuh menjadi seorang pemimpin.

Baca Juga: Prabowo ke Perwira TNI/Polri: Anda Digaji dan Diberi Makan Oleh Rakyat!

“Ini merupakan suatu motivasi dan langkah pertama saya untuk nanti ke depannya bisa menjadi pemimpin yang hebat,” tuturnya.

Di balik pencapaian tersebut, ada doa orang tua yang terus menyertai langkahnya. Calvin mengungkapkan bahwa selama menjalani pendidikan di Akademi Militer, kedua orang tuanya menguatkannya melalui motivasi dan doa.

“Orang tua saya hanya memberikan motivasi dan juga doa. Itu merupakan salah satu tekad dan dukungan yang paling kuat dari kedua orang tua saya,” katanya.

Selain dukungan keluarga, kebersamaan dengan rekan-rekan satu angkatan menjadi bagian yang paling membekas selama masa pendidikan. Pendidikan yang keras, kelelahan setelah latihan, serta berbagai rintangan terasa lebih ringan karena dilalui bersama.

Semangat yang sama juga dirasakan Yehezkiel Bonaventura Yudaniarman, peraih Adhi Makayasa Akademi Angkatan Udara. Setelah melewati pendidikan selama tiga tahun, ia mengaku tidak menyangka dapat berdiri sebagai lulusan terbaik dan dilantik langsung oleh Presiden di Istana Merdeka.

“Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, pengalaman sekali seumur hidup kami bisa dilantik langsung oleh RI 1 di Istana Negara,” ujar Yehezkiel.

Hari itu juga menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Istana. Bagi Yehezkiel, kesempatan bertatap muka dan menerima pelantikan langsung dari Presiden merupakan kebanggaan yang tidak semua orang dapat rasakan.

Namun, kebahagiaan tersebut tidak hanya menjadi milik Yehezkiel. Di sisi lain, kedua orang tuanya turut menyaksikan buah dari perjalanan panjang putra mereka.

“Kesannya luar biasa, jadi pengin nangis. Ini pengalaman pertama untuk keluarga kami, ini baru pertama kali yang jadi TNI, sebelumnya nggak ada, perjuangan dia terlalu besar ya. Jadi kami bangga, saking bangganya sampai nggak bisa ngomong apa,” tutur sang ibu.

Di balik sosok perwira muda yang disiplin, sang ibu masih mengingat Yehezkiel kecil sebagai anak yang aktif, tidak bisa diam, dan gemar bertanya. Hampir setiap hal yang dilihatnya selalu memunculkan pertanyaan: mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana hal itu dapat berlangsung.

“Dulu dia kecilnya bandel banget, nggak bisa diam, selalu aktif, selalu bertanya ‘Kok bisa gitu?’, ‘Kenapa? Kok kayak gitu, kenapa?’ Itu pasti selalu ditanyakan ke setiap orang,” kenangnya sambil tersenyum.

Bagi Calvin dan Yehezkiel, Adhi Makayasa bukan sekadar penghargaan atas prestasi selama pendidikan. Di baliknya terdapat doa orang tua, kebersamaan dengan rekan seperjuangan, kedisiplinan, serta keteguhan melewati berbagai tantangan. Kini, dengan pangkat yang tersemat di pundak, keduanya menapaki langkah pertama dalam perjalanan pengabdian. Sebuah perjalanan untuk menjaga amanah rakyat dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

x|close