Ntvnews.id, Jakarta - Bandara Brisbane mencatat sejarah sebagai bandara pertama di Australia yang mulai memanfaatkan minyak goreng bekas atau minyak jelantah sebagai bagian dari bahan bakar pesawat.
Dilansir dari City News QBN, Rabu, 8 Juli 2026, bahan bakar tersebut merupakan campuran minyak jelantah dengan bahan bakar jet konvensional yang selama ini digunakan. Produk tersebut dipasok oleh Viva Energy melalui Terminal Pinkenba.
Bahan bakar campuran itu disimpan, dicampur, disertifikasi, kemudian didistribusikan melalui sistem pengisian bahan bakar jet yang telah ada di Bandara Brisbane. Skema tersebut dirancang agar operasional penerbangan tetap berjalan seperti biasa tanpa memberikan perbedaan bagi pilot maupun penumpang.
Sebagai bagian dari proyek ini, dilakukan peningkatan fasilitas berupa renovasi tangki penyimpanan berkapasitas 3,3 juta liter. Selain itu, dibangun pula sistem sertifikasi dan pencatatan untuk memantau penggunaan bahan bakar sekaligus menghitung manfaat lingkungan yang dihasilkan.
Chief Executive Officer (CEO) Viva Energy, Scott Wyatt, mengatakan gejolak yang terjadi di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu alasan Australia mempercepat pengembangan bahan bakar alternatif. Menurutnya, negara tersebut sempat merasakan dampak lonjakan harga minyak dunia.
"Pada awalnya kami menghadapi banyak tantangan dalam memastikan pasokan dan memperkuat pasokan ke negara ini," katanya pada Senin, 6 Juli 2026.
Baca Juga: Tegang! Pesawat Patroli Rusia Dekati Kapal Induk Inggris di Laut Norwegia
Wyatt menambahkan, "Namun, mengetahui di mana dibutuhkan dan bagaimana cara mengirimkannya ke sana di tengah lonjakan permintaan yang terjadi sangatlah penting," lanjutnya.
Meski Australia dinilai mampu melewati krisis pasokan energi dengan cukup baik, Wyatt menegaskan tingginya kebutuhan energi menjadi pengingat pentingnya beralih menuju bahan bakar rendah emisi.
"Transisi ini merupakan perjalanan penting bagi kami, tetapi akan memakan waktu lebih lama dari yang kami inginkan," katanya.
Ia melanjutkan, "Kami sangat percaya bahwa bahan bakar terbarukan adalah bagian dari solusi tersebut, dan pembangunan tangki di Pinkenba ini merupakan bagian kecil namun penting dari awal perjalanan kami," tutur dia.
Wyatt juga menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas di Brisbane merupakan bagian dari proyek yang lebih besar, termasuk pengembangan fasilitas impor bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Victoria serta proyek kilang Geelong yang akan mengolah bahan baku biogenik sebagai pengganti sebagian minyak mentah.
Menurutnya, "Dengan pengaturan kebijakan yang tepat dari pemerintah, kita berpotensi mengganti sekitar sepertiga minyak mentah kita dengan bahan baku biogenik, yang merupakan langkah berarti menuju pengurangan emisi bahan bakar hidrokarbon yang kita olah saat ini," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Brisbane Airport Corporation, Gert-Jan de Graaff, menyebut implementasi bahan bakar tersebut sebagai kemajuan penting bagi industri penerbangan.
"Kemampuan untuk mendistribusikan bahan bakar penerbangan berkelanjutan langsung ke semua pesawat di Bandara Brisbane adalah sebuah terobosan besar, tidak hanya untuk bandara, tetapi juga untuk maskapai penerbangan dan penumpang yang menggunakan bandara ini," katanya.
Selain Bandara Brisbane, sejumlah bandara lain di negara bagian Queensland juga dikabarkan akan mulai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan tersebut sebagai bagian dari upaya menekan emisi sektor penerbangan.
Ilustrasi Pesawat (pixabay)