Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menantang kalangan akademisi dan perguruan tinggi untuk menjawab berbagai persoalan mendasar terkait kemandirian industri nasional. Menurutnya, setelah hampir delapan dekade merdeka, Indonesia masih menghadapi sejumlah ketergantungan strategis, mulai dari impor pangan hingga belum optimalnya industri otomotif nasional.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara Konvensi, Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 pada Sarasehan Kebangsaan yang diikuti sekitar 2.600 rektor, dekan, dan dosen perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengaku selama ini kerap mendatangi kampus-kampus dan berdiskusi langsung dengan para profesor untuk mencari jawaban atas berbagai tantangan pembangunan nasional.
"Saudara-saudara, karena itu saya berkali-kali saya datang kepada kampus, saya datang saya minta ke orang-orang terpintar tanya prof brian tanya prof sigit saya tanya prof-prof IPB kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor gandum? Kenapa?" kata Prabowo.
Presiden mempertanyakan mengapa Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah masih belum mampu mencapai kemandirian di sejumlah sektor strategis, termasuk pangan.
Baca Juga: Prabowo: Kemajuan Bangsa Selalu Lahir dari Pemikir Terbaik
Ia juga menyoroti produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional yang menurutnya masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.
"Kelapa sawit per hektar di malaysia produktivitasnya lebih kenapa indonesia setelah 80 tahun tidak bisa bikin mobil sendiri," ujarnya.
Prabowo mengaku sering mengajukan pertanyaan tersebut kepada kalangan akademisi, khususnya mereka yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga tingkat doktoral.
"Kalian yang PhD kenapa? Kita tidak punya kita beli motor 10 juta motor tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan indonesia?" lanjutnya.
Meski demikian, Presiden menyampaikan apresiasinya kepada perguruan tinggi dan dunia riset nasional yang menurutnya mulai menunjukkan kemajuan dalam membangun industri otomotif dalam negeri.
"Tapi saya terimakasih kampus, saya terimakasih kita mulai arah punya mobil sendiri," kata Prabowo.
Ia kemudian membagikan pengalaman pribadi yang menurutnya menjadi salah satu momen paling membanggakan sejak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.
"Saya ada 1 kepuasan yang mendalam waktu saya dilantik saya pulang dari pelantikan saya bisa naik mobil buatan indonesia desainua indonesia, dan tidak ada mobil di indonesia," ujarnya.
Prabowo Subianto di Sarasehan Kebangsaan (NTVnews)
Prabowo menjelaskan bahwa kendaraan yang digunakannya tersebut memang belum sepenuhnya diproduksi di dalam negeri. Namun, ia menilai pencapaian tingkat kandungan lokal yang mencapai sekitar 65 persen sudah merupakan langkah awal yang patut diapresiasi.
"Tapi kalau 65% itu sudah bisa kita claim resikonya selama kita jadi presiden waktu bulan-bulan pertama lumayan kecuali kalau hujan deras sempat bocor juga tapi saya kembalikan prof sigit gimana ini mobil presiden bocor, gapapa, minimal kita mulai, kita harus berani mulai," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, keberanian untuk memulai merupakan kunci utama dalam membangun kemandirian bangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus bergantung pada produk dan teknologi dari luar negeri apabila ingin menjadi negara maju.
Presiden juga menekankan bahwa perguruan tinggi, ilmuwan, dan para peneliti memiliki peran sentral dalam menjawab tantangan pembangunan nasional. Baginya, kemajuan industri, pangan, dan teknologi Indonesia sangat bergantung pada keberanian untuk berinovasi dan kemampuan menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bangsa.
Prabowo berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri dapat semakin diperkuat agar cita-cita kemandirian ekonomi nasional dapat diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Presiden Prabowo di acara Sarasehan Kebangsaan (Youtube Sekretariat Presiden)