Ntvnews.id, Gaza - Militer Israel kembali melancarkan serangan di Jalur Gaza dan Lebanon Selatan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Sedikitnya 12 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan tersebut, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Di Gaza, sedikitnya 10 orang meninggal dunia akibat operasi militer Israel. Pihak militer Israel mengklaim salah satu korban tewas merupakan komandan sel Hamas.
"Kami menargetkan Hamas di sektor tersebut," kata tentara Israel dilansir AFP, Senin, 8 Juni 2026.
Menurut dinas pertahanan sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, serangan pesawat nirawak (drone) menghantam Kamp Jawazat yang menjadi tempat penampungan warga terlantar. Serangan itu menewaskan delapan orang dan melukai 15 lainnya.
Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza juga mengonfirmasi telah menerima delapan jenazah korban serangan tersebut.
Sementara itu, di wilayah selatan Gaza, seorang pria berusia 25 tahun bernama Muhannad Othman Farwana dilaporkan tewas setelah serangan menghantam sebuah tenda pada pagi hari. Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis menyatakan korban dibawa ke rumah sakit bersama sejumlah warga yang mengalami luka-luka.
Baca Juga: Indonesia Kecam Rencana Netanyahu Perluas Pendudukan Gaza hingga 70 Persen
Militer Israel menyebut Farwana merupakan komandan sel Hamas yang menjadi target dalam serangan presisi tersebut.
Namun, menurut sepupunya, Mohammed Farwana, serangan menghantam tenda yang berada di atap rumah Muhannad hanya beberapa saat sebelum acara pernikahannya digelar.
"Seluruh keluarga sudah bersiap merayakan pernikahannya. Sekarang, kami justru menghadiri pemakamannya," ujarnya kepada AFP.
Pada malam harinya, dinas pertahanan sipil Gaza kembali melaporkan satu korban tewas akibat serangan Israel di wilayah tenggara Kota Gaza. Korban diketahui merupakan pria berusia 37 tahun.
Konflik di Gaza terus berlangsung di tengah saling tuding antara Israel dan Hamas terkait pelanggaran gencatan senjata yang diberlakukan untuk menghentikan perang sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas dan dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sedikitnya 951 warga Palestina telah meninggal dunia sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Di sisi lain, militer Israel melaporkan lima personelnya tewas dalam periode yang sama.
Terbatasnya akses media internasional ke Gaza membuat verifikasi independen terhadap jumlah korban dan kondisi di lapangan menjadi sulit dilakukan.
Dua Orang Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon
Ilustrasi - Asap mengepul setelah serangan Israel terhadap Kota Yahmar al-Shakif dan Arnun di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan pada 11 Mei 2026. ANTARA/Anadolu/Ramiz Dallah/pri. (Antara)
Di Lebanon Selatan, serangan Israel juga menimbulkan korban jiwa. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan sedikitnya dua orang tewas dalam serangan yang terjadi di Kota Saksakiyeh, Distrik Sidon, pada Sabtu pagi.
Selain korban tewas, sebanyak 22 orang dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk tiga anak dan seorang perempuan.
Sebelumnya, militer Lebanon juga mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam sebuah kendaraan militer di wilayah selatan negara itu.
Dalam keterangannya, militer Lebanon mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan brutal.
"Sejumlah personel militer, termasuk seorang perwira, gugur dalam serangan biadab Israel yang menargetkan sebuah kendaraan militer di ruas jalanan Khardali-Nabatieh," demikian pernyataan militer Lebanon via media sosial X.
Baca Juga: Indonesia dan 7 Negara Lain Kutuk Perlakuan Israel terhadap Peserta Armada Gaza
Sementara itu, militer Israel menyatakan kendaraan yang diserang bergerak secara mencurigakan di area yang disebut sebagai zona pertempuran aktif yang telah dievakuasi.
Israel menegaskan operasinya ditujukan kepada kelompok Hizbullah, bukan kepada militer Lebanon. Pihak Tel Aviv juga menyatakan masih melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut.
Serangan tersebut terjadi ketika gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 17 April lalu seharusnya menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Namun, kedua pihak masih saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan.
Pekan ini, utusan Lebanon dan Israel bahkan mengumumkan gencatan senjata bersyarat tambahan di Washington DC. Meski demikian, insiden kekerasan yang terus berlanjut menunjukkan situasi keamanan di kawasan masih jauh dari stabil.
Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad (Antara)