Industri Rumahan Kantong Kresek Tangerang Disorot, Diduga Pernah Curi Listrik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mei 2026, 13:31
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Ilustrasi Petugas PLN saat melakukan penggantian miniature circuit breaker (MCB) pada kWh meter di salah satu rumah pelanggan untuk proses tambah daya listrik. Ilustrasi Petugas PLN saat melakukan penggantian miniature circuit breaker (MCB) pada kWh meter di salah satu rumah pelanggan untuk proses tambah daya listrik.

Ntvnews.id, Jakarta - Industri rumahan yang memproduksi kantong kresek plastik hitam di Kp Rawa Kompeni, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, jadi sorotan. Diduga, pemilik pabrik tersebut mempekerjakan para karyawannya dengan tak layak dan melakukan praktik curang.

Berdasarkan informasi, industri rumahan itu pernah ganti pemilik atau bos. Pada tahun 2020, si pemilik pernah ditangkap polisi lantaran diduga menyuntik listrik guna kegiatan produksi pabrik.

Kini, pabrik yang memiliki karyawan sekitar belasan hingga 20-an orang itu, dipimpin HCL.

"Bosnya pernah ditangkap karena mencuri listrik agar pabrik beroperasi 24 jam," ujar salah seorang eks karyawan pabrik tersebut, M, Sabtu, 9 Mei 2026.

M mengaku pernah bekerja di bagian mesin hingga tiga tahun di industri rumahan itu. Tapi, kata dia, upah yang dirinya dapat, sangat tak sebanding dengan beban kerja yang dipikul. M menyebut ia dijadikan pekerja harian lepas dengan gaji Rp 90 ribu per hari, dengan waktu kerja 12 jam.

"Saya kerja Senin-Jumat dari jam 07.00-19.00. Sabtu masuk jam 07.00-15.00. Minggu libur. THR dapat Rp 500 ribu. Untuk karyawan baru hanya 200-300 ribu," jelas dia.

Bukan cuma itu, M juga menyebut mandor pabrik bahkan suka memaksanya masuk kerja, meski kondisi sedang sakit. Pihak pabrik berdalih untuk menutupi karyawan lain yang tidak masuk agar bisa mengejar kebutuhan produksi.

"Tolong dong masuk, lagi tidak ada orang," kata M, menirukan perintah mandor.

"Saya sedang sakit meriang badan, tapi mandor tetap memaksa," imbuh M.

"Tolong lah ! Tidak ada orang yang megang nih," lanjut mandor, ditirukan M.

"Akhirnya terpaksa masuk," ucap M.

Warga setempat, kata M juga mengeluhkan bau dari pabrik tersebut yang sangat menyengat. Para karyawan pun rentan kena penyakit, karena tak disediakan masker atau alat pelindung.

x|close