Ntvnews.id
Kondisi ini dipicu oleh konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan, Dan Jorgensen, dalam konferensi pers yang digelar di Brussels, Belgia, pada Selasa, 05 Mei 2026.
"Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita," kata Dan Jorgensen.
Mantan menteri pertanian Denmark itu mengungkapkan bahwa negara-negara Uni Eropa telah menggelontorkan sekitar 30 miliar euro (sekitar Rp611 triliun) untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik di Timur Tengah dimulai.
Baca Juga: Komisi Eropa Dorong Kebijakan Kerja Fleksibel di Tengah Krisis Energi, Isu Selat Hormuz Ikut Disorot
Namun, pengeluaran besar tersebut tidak diiringi dengan peningkatan pasokan energi.
Situasi semakin memburuk setelah pada Senin, 13 April 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat mulai melakukan blokade terhadap jalur maritim yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis global yang menyumbang sekitar 20 persen distribusi minyak, produk turunan minyak, serta gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: JP Morgan: Indonesia Negara Paling Tahan Krisis Energi ke-2 di Dunia
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal non-Iran masih diperbolehkan melintas di jalur tersebut, selama tidak melakukan pembayaran pungutan kepada pihak Teheran.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap stabilitas energi global, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap perekonomian dunia.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussels, Belgia 23 Mei 2025. ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. (Antara)